Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Afiq Naufal

Konservatifisme Prabowo Mengubah Angka Stabil Menjadi Kemarahan yang Subtil

Soalnya bukan sekadar kekuatan, melainkan bagaimana aturan permainan bisa dibelokkan sesuai kebutuhan.

Tayang:
Editor: Sudirman
Afiq Naufal
OPINI - Afiq Naufal Ketua BEM Universitas Paramadina 2023-2024. Salah satu tulisan Opini Tribun Timur. 

Tidak ada represi yang frontal, tetapi ada pembungkaman yang bekerja perlahan. Tidak ada kebijakan ekonomi yang sepenuhnya destruktif, tetapi ada pengalihan makna angka-angka yang menjadikannya tidak lagi dapat diandalkan sebagai tolok ukur realitas.

Stabilitas yang dulu menjadi pegangan kini bergeser menjadi sesuatu yang lebih abstrak—sesuatu yang lebih berkaitan dengan persepsi dibanding fakta material.

Dalam teori politik klasik, stabilitas biasanya dipandang dalam dua bentuk: stabilitas struktural dan stabilitas perseptual. Stabilitas struktural berbicara tentang keteguhan institusi, keberlanjutan hukum, dan konsistensi kebijakan yang memungkinkan negara tetap berjalan dalam koridor yang jelas.

Sementara stabilitas perseptual berbicara tentang rasa aman yang diciptakan oleh negara melalui propaganda, narasi keberhasilan, atau bahkan ilusi ketertiban.

Prabowo tampaknya tidak tampak dalam wajah yang jelas. Ia tidak secara terang-terangan mengguncang sistem, tetapi juga tidak membiarkan sistem berjalan dengan kejelasan mutlak.

Ia menciptakan stabilitas yang tidak benar-benar solid, tetapi cukup untuk membuat publik merasa tidak perlu mempertanyakannya secara mendalam.

Pendekatan ini mengingatkan kita pada teori biopolitik Michel Foucault, yang menjelaskan bagaimana kekuasaan di era modern tidak lagi bekerja melalui represi langsung, tetapi melalui pengelolaan persepsi dan emosi.

Negara tidak perlu secara eksplisit melarang sesuatu, cukup dengan membentuk narasi yang membuat sesuatu terasa tidak relevan, tidak penting, atau terlalu berisiko untuk dipertanyakan.

Maka kita melihat bagaimana politik di bawah Prabowo tidak menekan kritik secara kasar, tetapi mengisolasinya dalam ruang gema yang perlahan meredup.

Demonstrasi tidak perlu dibubarkan secara paksa, cukup dengan membiarkannya kehilangan relevansi di tengah sorotan isu lain yang lebih dikendalikan oleh negara.

Ketidakpuasan tidak perlu ditekan hingga mendidih, cukup dengan membuatnya terpecah-pecah dan kehilangan daya ledaknya.

Salah satu dampak paling nyata dari konservatisme ini adalah bagaimana angka-angka stabil tidak lagi memiliki kekuatan untuk menenangkan.

Dulu, pertumbuhan ekonomi yang terjaga di angka lima persen adalah indikator keberhasilan yang cukup untuk meredam kritik.

Kini, angka itu hanya menjadi data statistik yang kehilangan daya yakinnya di tengah ketidakpuasan yang terus mengalir. Masyarakat tidak lagi merasa cukup dengan angka-angka yang stabil karena realitas yang mereka rasakan tidak sesuai dengan laporan yang disajikan.

Prabowo tidak mengguncang sistem secara radikal, tetapi ia mengubah bagaimana sistem itu dimaknai.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
VS
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
VS
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved