Opini Afiq Naufal
Konservatifisme Prabowo Mengubah Angka Stabil Menjadi Kemarahan yang Subtil
Soalnya bukan sekadar kekuatan, melainkan bagaimana aturan permainan bisa dibelokkan sesuai kebutuhan.
Oleh: Afiq Naufal
Ketua BEM Universitas Paramadina 2023-2024
TRIBUN-TIMUR.COM - Stabilitas selalu menjadi mantra utama dalam pemerintahan. Dan Prabowo mengelola negara seperti seorang petinju klasik dengan kuda-kuda stabil di atas ring, penuh strategi, menjaga jarak, memainkan ritme dengan disiplin.
Tapi ketika lawannya mulai melawan, ia tak segan mengganti aturan, tiba-tiba berubah menjadi petarung UFC—bermain kasar, menyerang titik-titik lemah tanpa aba-aba, menggunakan teknik yang bahkan wasit pun sulit mengatur.
Soalnya bukan sekadar kekuatan, melainkan bagaimana aturan permainan bisa dibelokkan sesuai kebutuhan.
Stabilitas, dalam logika Prabowo, bukan tentang keseimbangan yang tenang, melainkan ketertiban yang harus tetap dikontrol, bahkan jika itu berarti tanpa sadar menciptakan kekacauan yang terencana.
Secara angka, ekonomi tampak stabil. Inflasi terkendali, pertumbuhan tetap di jalurnya, dan neraca perdagangan masih mencatat surplus.
Hanya saja rasa-rasanya kestabilan di atas kertas itu tidak cukup untuk menenangkan rakyat yang semakin gelisah.
Ada sesuatu yang terasa janggal, seperti ilusi ketertiban yang dipaksakan. Rakyat tidak hanya melihat angka, mereka merasakan denyut kehidupan yang berbeda dari apa yang tertulis dalam laporan resmi.
Harga barang yang naik, ketidakpastian lapangan kerja, serta kebijakan-kebijakan yang muncul dan hilang seperti sulap membuat masyarakat merasa tidak memiliki pegangan yang kokoh.
Stabilitas, dalam paradigma klasik, terukur melalui angka—pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, tingkat pengangguran yang dapat ditekan.
Angka-angka ini adalah bahasa kekuasaan yang lugas, sesuatu yang dapat dijadikan tolok ukur, disusun dalam laporan resmi, dan digunakan untuk membangun narasi keberhasilan.
Sedang era ini, angka tidak lagi berfungsi sebagai manifestasi konkret dari ketertiban. Ia bukan lagi tujuan akhir, melainkan instrumen yang lentur, yang tidak hanya dapat digunakan untuk menenangkan.
Tetapi juga untuk membentuk persepsi dan, jika perlu, menimbulkan efek sebaliknya: kemarahan yang subtil, kekecewaan yang terkendali, ketidakpastian yang cukup untuk membuat masyarakat tetap terjaga, tetapi tidak cukup untuk mendorong revolusi.
Ada sesuatu yang khas dalam konservatisme Prabowo. Ia tidak bergerak dalam garis yang tegas antara status quo dan perubahan radikal, tetapi dalam ambiguitas yang memungkinkan dirinya tetap mengendalikan ritme kekuasaan tanpa harus menunjukkan perubahan yang mencolok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Afiq-NaufalPenulis-Antologi-Puisi-kumpulan-puisi-Hikayat-Angin.jpg)