Ngopi Akademik
Gen Z
Berdasarkan data yang ada, partisipasi pemilih di Makassar tercatat pada angka 57,65 persen, yang sedikit di bawah target nasional 70 persen.
Oleh: Rahmat Muhammad
KPS S3 Sosiologi Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Fenomena partisipasi pemilih pemula, khususnya dari kalangan Generasi Z (Gen Z), menjadi sorotan dalam Pilkada 2024 di Makassar.
Generasi ini, yang kini memasuki usia yang memenuhi syarat untuk memilih, memiliki karakteristik dan perilaku yang berbeda dari generasi sebelumnya, yang memengaruhi bagaimana mereka berpartisipasi dalam proses pemilu.
Berdasarkan data yang ada, partisipasi pemilih di Makassar tercatat pada angka 57,65 persen, yang sedikit di bawah target nasional 70 persen.
Namun, data mengenai tingkat partisipasi pemilih pemula di kota ini menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, dengan sekitar 77,9 persen pemilih muda (di atas usia 17 tahun) tercatat menggunakan hak pilih mereka.
Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dalam meningkatkan partisipasi pemilih secara umum, tingkat keterlibatan Gen Z dalam Pilkada Makassar dapat dianggap sebagai tren positif.
Dalam perspektif sosiologi politik, karakteristik Gen Z memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai pola politik masa kini. Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, tumbuh di era digital dengan akses informasi yang lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.
Media sosial dan teknologi komunikasi memegang peranan penting dalam membentuk opini dan keterlibatan politik mereka. Mereka lebih cenderung untuk mencari informasi secara mandiri, menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter sebagai sumber utama dalam memahami isu-isu politik.
Hal ini tentunya mempengaruhi sikap mereka terhadap pemilu dan proses politik secara keseluruhan.
Keterlibatan aktif Gen Z di Pilkada Makassar, yang tercatat pada angka yang signifikan, menunjukkan bahwa mereka tidak hanya terpengaruh oleh tren sesaat atau kampanye konvensional, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika politik yang lebih terbuka dan transparan di dunia digital.
Partisipasi mereka menunjukkan kesadaran akan pentingnya suara mereka dalam menentukan arah kota, meskipun ada tantangan dalam hal motivasi dan kesadaran politik yang lebih mendalam.
Data ini juga menggambarkan bahwa generasi muda ini lebih tertarik pada politik lokal yang berdampak langsung pada kehidupan mereka, seperti isu-isu sosial, pendidikan, dan ekonomi.
Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana Gen Z di Makassar memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya.
Misalnya, di Kecamatan Tallo, Wajo, dan Panakukang, sebagian besar pemilih muda berpartisipasi dalam proses pemilu.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan tingkat partisipasi antara wilayah perkotaan dan pinggiran kota, Gen Z tetap menunjukkan ketertarikan dan kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya pemilu, bahkan di daerah yang memiliki tingkat urbanisasi lebih rendah.
Namun, ada juga tantangan besar yang harus dihadapi. Meskipun tingkat partisipasi Gen Z relatif tinggi, ini tidak berarti bahwa mereka sepenuhnya memahami seluk-beluk politik dan dampaknya.
Gen Z cenderung lebih memilih kandidat yang dapat berkomunikasi dengan mereka secara langsung dan menggunakan bahasa yang mereka pahami.
Oleh karena itu, penting bagi para calon pemimpin untuk beradaptasi dengan gaya komunikasi yang lebih dekat dengan gaya hidup Gen Z, seperti melalui media sosial dan penggunaan konten digital yang kreatif.
Mereka ingin merasa terhubung secara pribadi dengan calon pemimpin mereka, bukan hanya melihat mereka sebagai figur politik yang jauh.
Meskipun terdapat sejumlah tantangan dalam meningkatkan partisipasi politik secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa Gen Z di Makassar menunjukkan tingkat partisipasi yang signifikan dalam Pilkada 2024.
Ini merupakan indikasi bahwa generasi muda memiliki kesadaran politik yang lebih tinggi dan kecenderungan untuk terlibat dalam proses demokrasi, meskipun mereka tetap membutuhkan saluran komunikasi yang relevan dan mudah diakses.
Menyikapi karakteristik ini, para pemangku kepentingan harus beradaptasi dengan dinamika politik yang ada, agar dapat terus menggaet minat Gen Z dalam setiap tahapan pemilu yang akan datang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Pengamat-Politik-Universitas-Hasanuddin-Unhas-Rahmat-Muhammad.jpg)