Kabar dari Langit
N-250 IPTN dan MBG
Dalam sejarah, Jerman (Republik Weimar, 1923), Zimbabwe (2000-an), Venezuela (2010-an), Argentina (2001), Rusia (1998), dan Indonesia (1998-an).
Oleh: M. Qasim Mathar
TRIBUN-TIMUR.COM - Depresiasi adalah keadaan jatuhnya nilai mata uang terhadap mata uang yang lain.
Sedangkan jika kejatuhannya sangat parah, apalagi kencang dan tak terkendali itu disebut krisis mata uang atau currency collapse.
Di antara sebabnya ialah, kepercayaan terhadap ekonomi dan perbankan sendiri hilang, modal asing hijrah keluar, impor lebih besar ketimbang ekspor, dan uang di tangan rakyat, termasuk gaji, semakin lemah terhadap lonjakan yang semakin melejit harga barang kebutuhan pokok (hiperinflasi).
Demonstrasi dan ketidakstabilan politik bisa terjadi. Currency collapse sering menjadi ancaman serius bagi kelangsungan pemerintahan.
Meskipun tidak otomatis, tapi ada hubungan yang cukup kuat antara currency collapse dan jatuhnya rezim pemerintahan.
Sebab, jika pemerintah gagal mengatasi keadaan yang disebut di atas, legitimasi politiknya dapat runtuh.
Krisis ekonomi bisa berkembang menjadi krisis politik.
Dalam sejarah, Jerman (Republik Weimar, 1923), Zimbabwe (2000-an), Venezuela (2010-an), Argentina (2001), Rusia (1998), dan Indonesia (1998-an).
Tidak semua currency collapse menjatuhkan rezim.
Tergantung pada kemampuan pemerintah untuk memulihkan kepercayaan rakyat dan kondisi politik yang telah kehilangan kepercayaan.
Indonesia (1998) dan Argentina (2001) adalah contoh dua negara yang gagal memulihkan kepercayaan rakyat dan kondisi politik yang sangat buruk, dan berkontribusi langsung terhadap jatuhnya pemimpin yang sedang berkuasa.
Indonesia hari ini, di posisi mana?
Apakah rupiah mengalami depresiasi, yang semoga akan melandai pulih, atau bergerak tak terkendali ke currency collapse?
Reformasi 1998 adalah pelajaran yang baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250903_DWN_Diskusi_Forum_Dosen_Prof-Dr-M-Qasim-Mathar.jpg)