Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pameran Foto Black Armada dan Persahabatan Dua Bangsa

Pameran ini digelar di sejumlah kota termasuk di Makassar (di kampus Universitas Hasanuddin, di koridor Australia-Indonesia Centre)

Editor: Sudirman
Ist
Sudirman Nasir, Dosen/peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, alumnus program doktoral Universitas Melbourne, Australia, anggota IKAMA Sulsel 

Oleh: Sudirman Nasir

Dosen/peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, alumnus program doktoral Universitas Melbourne, Australia, anggota IKAMA Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Kedutaan Besar Australia dan Konsulat Jenderal Australia di Makassar menggelar pameran foto mengharukan bertajuk “Two Nations: a Friendship is Born” mengenai persahabatan dua bangsa (Australia dan Indonesia) di hari-hari genting ketika republik muda sedang mendapatkan ancaman besar.

Pameran ini digelar di sejumlah kota termasuk di Makassar (di kampus Universitas Hasanuddin, di koridor Australia-Indonesia Centre) sampai tanggal 30 Oktober 2024.

Pameran yang dikuratori oleh Museum Maritim Nasional Australia ini menampilkan kisah dukungan orang-orang Australia terhadap kemerdekaan Indonesia di masa-masa awal revolusi.

Karya-karya yang dipamerkan berupa koleksi kliping berita, foto, dan sketsa antara lain oleh seniman perang Australia Tony Rafty.

Pameran ini mengisahkan dukungan kuat Australia kepada Indonesia saat masa perjuangan kemerdekaan melalui berbagai artefak seperti foto, surat, siaran berita, dan kenangan dari warga kedua negara yang bekerja sama pada masa tersebut.

Pameran ini sekaligus merayakan 75 tahun hubungan diplomatik antara Australia dan Indonesia dengan menampilkan berbagai dokumentasi sejarah dan kenangan kerjasama kedua negara.

Banyak di antara kita yang mungkin belum mengetahui bahwa banyak warga Australia pada saat revolusi fisik melawan Belanda (yang ingin kembali menguasai Nusantara setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua) mendukung upaya para pejuang Indonesia melawan tentara-tentara Belanda (NICA).

Patut pula dicatat bahwa dukungan itu paling banyak berasal dari warga Negeri Kanguru yang beraliran “kiri”.

Salah satu dukungan warga Australia yang paling fenonemal adalah boikot banyak anggota serikat buruh di Kota Brisbane, Queensland, pada tahun 1947 (setelah agreasi militer pertama Belanda) terhadap kapal Belanda yang membawa persenjataan tentara-tentara NICA. Boikot ini kemudian dikenal luas sebagai peristiwa Black Armada.

Selain itu ada begitu banyak demonstrasi yang digelar serikat buruh dan berbagai organisasi warga yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Banyak pula warga Australia seperti Molly Bondan (menikah dengan pejuang kemerdekaan bernama Mohammad Bondan, dan kemudian memakai nama suaminya sebagai nama belakang) yang secara langsung berjuang di Indonesia mengupayakan kemerdekaan.

Molly menulis buku mengenang perjuangan itu berjudul “In Love with a Nation”.

Perdana Menteri Sutan Syahrir tegas menghargai dukungan warga Australia itu dan kemudian dalam sebuah pidatonya berkata “Friends in Australia, I’m unknown to most of you and yet I call you my friends … the workers who refused to load the Dutch ships with arms and munitions which would be used against our republic...the thousands holding demonstrations to protest against the onslaught on our independence, you are all my friends”.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Ayo, ke Timur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved