Opini
Pameran Foto Black Armada dan Persahabatan Dua Bangsa
Pameran ini digelar di sejumlah kota termasuk di Makassar (di kampus Universitas Hasanuddin, di koridor Australia-Indonesia Centre)
Syahrir menegaskan “Teman-teman di Australia, saya tidak banyak dikenal di antara kalian namun meskipun begitu saya menyebut kalian kawan-kawan saya....(khususnya) kepada para pekerja yang menolak mengangkut barang dan senjata ke kapal-kapal Belanda yang akan digunakan untuk melawan republik kami, juga kepada ribuan orang yang melancarkan demonstrasi-demonstrasi mendukung kemerdekaan kami, kalian adalah kawan-kawan saya”.
Bukan hanya Syahrir yang secara terbuka mengapresiasi dukungan warga Australia itu tetapi juga Wakil Presiden Muhammad Hatta.
Tokok penting lainnya seperti Dr. Soebandrio bahkan menyebut Australia sebagai “bidan yang membantu lahirnya kemerdekaan Indonesia”.
Tidak mengherankan bila pada saat dibentuknya Commission for Good Offices untuk menfasilitasi perundingan gencatan senjata, Indonesia memilih Australia sebagai perwakilannya.
Salah seorang diplomat Australia bernama Thomas Kingston (T.K.) Critchley terlibat langsung dalam upaya perundingan di atas dan kemudian berkawan dekat dengan para pejuang Indonesia, khususnya Muhammad Hatta.
Crithcley mengenang Hatta sebagai sosok berwibawa namun juga kerap melontarkan berbagai lelucon sehingga ia merasa nyaman berada di dekatnya, terlepas dari banyaknya perbedaan latarbelakang (ras, agama, dan sebagainya) antara kedua orang bersahabat.
Critchely kemudian menjadi Duta Besar Australia untuk Indonesia pada tahun 1978 – 1981 dan terus menjadi saksi persahabatan kedua negara.
Setelah lebih 70 tahun persahabatan antar kedua bangsa terus terjaga meskipun tentu saja ada saat-saat di mana terjadi perbedaan pandangan.
Banyaknya warga Indonesia yang belajar atau telah menyelesaikan studi di berbagai universitas di Australia (dan dengan demikian sempat tinggal di negara tersebut selama beberapa tahun).
Begitu pula warga Australia yang belajar atau bekerja di Indonesia turut membuat hubungan kedua bangsa tetap terjaga bahkan meningkat.
Hubungan baik hanya akan terus terpelihara dan berkembang apabila kita saling mengenal.
Konflik seringkali muncul dan berkembang bukan terutama karena benturan peradaban (clash of civilzation) seperti diungkapkan oleh Samuel Huntington tetapi karena benturan ketidak-tahuan (clash of ignorance).
Kondisi saling mengenal akan membuat konflik-konflik bisa terkelola dan tidak melebar ke mana-mana dan mengorbankan kepentingan utama kedua bangsa untuk maju bersama-sama.
Inistiatif pameran foto “Two Nations: a Friendship is Born” merupakan upaya penting untuk memperkuat hubungan antar bangsa dan antar warga kedua negara bertetangga ini.*
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
| Sa’i Hybrid: Ketika Ibadah Bertemu Fleksibilitas dan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Swasembada Pangan Benteng Utama Ketahanan Negeri |
|
|---|
| Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan? |
|
|---|
| Jangan Asal Tutup Prodi, Green Job Butuh Lulusan Multidisiplin |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sudirman-Nasir-Dosenpeneliti-di-Fakultas-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Hasanuddin.jpg)