Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Politik Dinasti

Sedangkan politik dinasti secara istilah  merupakan sebuah serangkaian strategi manusia yang bertujuan untuk memperoleh kekuasaan.

Editor: Sudirman
Ist
Ilham Kadir, Kolumnis/Penulis Buku dan Peneliti 

Daulah ini berkuasa selama lima setengah abad, kurang lebih 524 tahun. Lalu muncul Daulah Utsmaniyah yang berpusat Istambul, Turki, yang memerihan sejak tahun 1299 hingga 1923 Masehi.

Sejarah peradaban Islam menyajikan kegemilangan, baik dalam aspek keilmuan sejak zaman Nabi lalu kemudian diteruskan pada Dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah.

Begitupula dalam aspek politik, dinasti Abbasiyah yang membentang dari Makkah hingga Andalusia pernah melahirkan pemerintahan yang sangat kondusif, dan Dinasti Utsmaniyah yang membuka Konstantinipel menguasai sebagian besar Eropa.

Artinya politik dinasti dan dinasti politik dalam pandangan Islam, tidak bertentangan dengan ajaran Islam bahkan dirawat dan dianjurkan. Selama itu mendatangkan manfaat dalam dakwah.

Filosifinya terletak pada misi ajaran Islam dan substansi sebuah negara. Misi ajaran Islam adalah menyebarkan risalah islamiyah seluas-luasnya, dan itu lebih mudah diaplikasikan dalam pemerintahan berbasis kerjajaan.

Andaikata pada abad ke-16 dan abad ke-17, Makassar tidak dipmpin oleh para raja, kemungkinan besar Islam tidak menyebar dengan massif di Sulawesi Selatan, dan sebagian besar tetap menjadi penganut paganisme.

Namun karena masuknya para dai, tiga diantaranya diabadikan sejarah dengan baik yakni, Datuk Patimang yang berdakwah pada raja-raja Luwu, Datuk Ribandang menyasar Raja Gowa-Tallo, dan Datuk Ditiro menyasar tokoh-tokoh adat di Bulukumba, sehingga dengan cepat Islam tersebar dengan masif di daerah Sulawesi Selatan.

Demikian pula secara substansi, ajaran Islam lebih mudah diaplikasikan melalui kerajaan sebab cukup memengaruhi seorang raja, maka seluruh negeri yang berada di bawah kedaulatannya lebih mudah diperintahkan untuk tunduk pada syariah.

Keadilan, kesejahteraan, hingga keamanan dan kenyamanan yang menjadi inti dari sebuah pemerintahan akan lebih mudah terwujud. 

Sebagai contoh, negara-negara yang memiliki sistem pemerintahan dengan monarki absolut seperti Brunei Darussalam dan Kerajaan Arab Saudi jauh lebih maju dari segi pembangunan, kesejahteraan, dan lebih nyaman bahkan lebih adil dari berbagai aspek dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk Islam yang menganut sistem demokrasi, khususnya demokrasi setengah matang sebagaimana yang berlaku di Indonesia dan Malaysia.

Setengah matang sebab, mengaku demokrasi tapi watak rakyat dan pemimpinannya masih feodalisme. Pemimin masih merasa berkuasa seperti raja dan tidak ingin kekuasaannya hilang, di saat yang sama para pendukung mencintai pemimpin mereka melebihi raja hingga banyak yang rela mati demi mendukung junjungannya.

Satu lagi fenomena penguasa dan rakyat jelata. Bahwa setiap pemimpin, termasuk kepala daerah punya pendukung yang menciptakan polarisasi.

Sehingga pada akhirnya, sang raja kecil menciptakan elite. Nah, para pendatang baru akan kewalahan untuk menciptakan elite baru, sehingga muncullah istilah petahana dan penantang.

Petahana secara umum lebih mudah menang, tetapi tetap saja banyak yang tumbang, tergantung kekuatan tim, amunisi, dan jualan program.

Melihat kondisi seperti itu, maka umat Islam harus lebih bijak memilih, hendaknya lebih rasional dan tidak emosional.  

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved