Opini
Maulid yang Disesatkan
Saat yang bersamaan bermunculan pula semangat yang tak kalah membaranya menyerang orang yang memperingati Maulid dengan tuduhan bid’ah
Ada yang menyiapkan aneka macam makanan dengan asesorisnya seperti tradisi Bugis Makassar dengan bakul berisi beras ketang (songkolo) dengan berbagai lauk yang istimewa hingga telur yang berwarna warni sebagai ungkapan kegembiraan dari yang menyiapkannya.
Jadi intinya hanya dua, mendengar sirah Nabi dan memberi makan para hadirin.
Dua kegiatan ini semuanya dibenarkan bahkan dianjurkan dalam Islam, inilah prinsip umum yang mendasari kebolehannya, bisa mendatangkan maslahat sekalipun tidak secara rinci dijelaskan.
Moment harian, mingguan, bulanan hingga tahunan hendaknya tidak dilewatkan kecuali kita mengambil pelajaran di dalamnya.
Perhatikan QS. Al-Furqan: 62 (Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur).
Nikmat yang paling besar bagi manusia adalah Hidayat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Maka kehadiran (kelahiran) Nabi Muhammad saw adalah anugerah yang pantas kita sambut dengan kesyukuran.
Tentang ekspresi kegembiraan sangat relatif dikondisikan dengan personal dan komunal yang ada.
Abu Lahab yang sudah diabadikan namanya dalam al-Qur’an sebagai penghuni neraka adalah orang pertama yang gembira menyambut kehadiran anak saudaranya Abdullah yaitu Muhammad (ponakannya) dengan caranya sendiri yakni memerdekakan budaknya Tsuaiybah.
Disebutkan dalam Kitab al-Bukhary (7/9) bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksaan (pemandangan neraka setiap pagi dan petang) kecuali pada hari Senin di mana ia bahagia pada hari itu.
Kitab al-Bukhary dalam tradisi ulama sunni validasi riwayatnya diakui dalam periwayatan hadis, apalagi diperkuat dalam banyak referensi hadis yang lain.
Jika Abu Lahab yang tidak percaya kepada kenabian Muhammad memperoleh keringanan azab di hari Senin, bagaimana dengan mereka yang percaya kepada Nabi Muhammad lalu mengkspresikan kegembiraannya dengan memberi sadakah makan kepada orang, pasti lebih baik daripada Abu Lahab.
Nabi ditanya perihal puasa hari Senin, dijawab karena hari itu dilahirkan.
Artinya, Nabi memperingati Maulidnya setiap pekan. Jika ada yang berkata bahwa Nabi wafat pada hari, tanggal dan bulan yang sama, lalu kita gembira pada hari itu adalah hal yang naif, maka pandangan ini keliru.
Nabi adalah Rahmat yang membuat orang beriman bergembira perhatikan QS. Yunus 59 (Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.
| Paradoks Demokrasi di Perguruan Tinggi |
|
|---|
| Garis Merah yang Terlampaui, Penangkapan Pemimpin Negara Mengancam Tatanan Dunia |
|
|---|
| Haji 2024 Sukses, Menteri Jadi Tersangka: Di Mana Letak Keadilan? |
|
|---|
| Menggugat Relativisme: Antara Netralitas Palsu dan Pelumpuhan Keberpihakan Moral |
|
|---|
| Ketika Likes Lebih Penting dari Nyawa: Tantangan Promosi Kesehatan di Era Viral |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sekretaris-MUI-Sulsel-Prof-Muammar-Bakrypppp.jpg)