Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Maulid yang Disesatkan

Saat yang bersamaan bermunculan pula semangat yang tak kalah membaranya menyerang orang yang memperingati Maulid dengan tuduhan bid’ah

Editor: Sudirman
dok pribadi
Muammar Bakry, Rektor UIM Algazali dan Sekum MUI Sulsel 

Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan). Sumber Rahmat Allah adalah Nabi Muhammad saw.

Dinukil dari satu sumber, bahwa Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (567-622 H), penguasa dinasti Ayyub (di bawah kekuasaan Daulah Abbassiyah) yang pertama berinisiasi memperingati Maulid, untuk meningkatkan semangat jihad umat Islam pada saat Perang Salib dan merebut Yerusalem dari kerajaan Salibis. 

Referensi lain, disebutkan bahwa Imam Jalaluddin As-Suyuthi (911 H) berpendapat bahwa pertama kali perayaan Maulid Nabi dilakukan oleh kalangan Sunni adalah Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, Gubernur Irbil di Irak. Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H.

Dalam setiap peringatan Maulid, beliau menyiapkan berbagai macam hidangan dan hadiah untuk dinikmati hadirin dari berbagai kalangan.

Ketika ditanya bagaimana hukumnya, dijawab oleh Jalaluddin As-Suyuthi setelah menjelaskan bahwa jika di dalamnya ada nasehat dan memberi makan karena kegembiraan atas hadirnya Nabi Muhammad saw maka berpotensi mendapatkan pahala, dianggap sebagai Sunnah Hasanah (inovasi dengan ikutan yang baik).

Ratusan bahkan ribuan sumber dari kitab-kitab dan ulama, baik klasik maupun masa kini menjelaskan kemuliaannya dan diklasifikasi sebagai Sunnah Hasanah untuk syiar dalam penyebaran visi dan misi rahamatan lil alamin yang diemban oleh Nabi.

Jika demikian, pastilah kita terusik apabila peringatan Maulid disesatkan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved