Opini
Finalis Ramadan
Kemuliaan bulan ramadan terekam jelas dalam literatur-literatur keagamaan kita, baik melalui informasi al-Qur’an maupun hadis.
Oleh: Fahriady Zein
Alumni UINAM dan Anggota SANAD TH Khusus Makassar
Bagi pemeluk agama Islam khususnya, memandang bahwa bulan suci ramadan merupakan bulan yang mulia dan dimuliakan dan menjadi salah satu bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh seluruh pemeluk agama Islam di seluruh dunia.
Ada beragam eskpresi dalam meyambutnya sebagai bentuk kegembiraan atas kedatangan tamu agung nan mulia ini.
Kemuliaan bulan ramadan terekam jelas dalam literatur-literatur keagamaan kita, baik melalui informasi al-Qur’an maupun hadis.
Salah satu diantara kemuliaannya adalah sebagaimana yang terekam jelas dalam hadis nabi Muhammad saw.
Bahwanya “apabila bulan ramadan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan, dan pintu-pintu neraka akan ditutup, serta setan-setan akan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keyakinan ummat Islam tentang kemuliaan yang terkandung dalam bulan suci ramadan itu kemudian terekspresikan lewat kemudahan mereka dalam menjalankan ritual-ritual keagamaan dalam laku kehidupannya selama satu bulan penuh.
Baik ritual ibadah yang berhubungan dengan Allah maupun ritual ibadah yang berhubungan dengan manusia, atau dalam bahasa al-Qur’an dikenal dengan istilah hablun minAllah wa hablun minannas.
Dalam konteks Indonesia misalnya, Jamak kita saksikan dikampung-kampung atau bahkan di perkotaan, masjid yang biasanya sunyi dari jamaah sebelum hadirnya bulan suci ramadan seketika berubah menjadi ramai tatkalah bulan suci ramadan telah datang.
Masjid dipenuhi dengan jama’ah bahkan tak jarang pula masjid tak bisa menampung jama’ah yang berdatangan tatkalah sholat Isya dan tarwih dilaksanakan.
Wajah-wajah baru menghiasi shaf-shaf sholat yang didirikan di masjid-masjid, mulai dari sholat Dhuhur, Ashar hingga sholat shubuh yang terbilang sulit untuk didirikan secara berjama’ah di masjid.
Di lain sisi, kehadiran bulan suci ramadan itu juga memberikan dampak positif bagi pribadi seorang muslim secara khusus.
Dalam hal ini, hampir bisa dipastikan bahwa al-Qur’an yang biasanya jarang tersentuh dan dibaca sebelum datangnya bulan suci ramadan seketika berubah menjadi rutinitas setiap hari bagi ummat muslim selama bulan suci ramadan. Lantunan-lantunan ayat suci al-Qur’an terdengar dari rumah-rumah ummat muslim.
Bahkan tak jarang pula sebagian dari saudara-saudara kita mampu mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak satu kali, dua bahkan sampai lima kali dan seterusnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fahriady-Zein-Anggota-SANAD-Tafsir-Hadis-Khusus-Makassar.jpg)