Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menyingkap Makna di Balik Angka

Seringkali angka dijadikan sebagai media komunikasi non verbal untuk menerangkan realitas yang ada (terjadi) di alam.

Tayang:
Editor: Sudirman
Ist
Isal Sulkarnain, Mahasiswa Statistika FMIPA Unhas 

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjadi kritis terhadap sumber data, memeriksa metode pengumpulan data, dan mencari informasi dari berbagai sumber terpercaya dan independen untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan akurat.

Pemilu, Kemenangan, dan Berbagai Variabelnya

"Pembuat hoax terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah, tapi itulah faktanya," ujar Rocky Gerung dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di tvOne, Selasa malam 17 Januari 2017.

Ungkapan di atas masih sangat relevan dengan melihat fenomena pemilu hari ini, dimana suluruh instrumen dan perangkat kekuasaan digunakan untuk mengontrol kebenaran dalam rangka menggiring opini publik yang menguntungkan kandidat tertentu.

Per tanggal 25 Februari 2024 22:00:15 dengan persentase 77,00 persen TPS se-Indonesia, Prabowo-Gibran masih mendominasi kemenangan dengan perolehan suara sementara 74.449.157 atau 58,85 persen (sumber: https://pemilu2024.kpu.go.id/)

Hal ini sungguh tidaklah mengejutkan mengingat propaganda “menang satu putaran” yang terus digaungkan oleh mereka.

Di tulisan ini kami akan mencoba menguraikan berbagai variabel yang digunakan sehingga menghasilkan angka (kemenangan) di atas.

Kita mulai dari bagaimana putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang telah meloloskan anak presiden dalam kontestasi pemilu 2024.

Tentunya putusan ini sarat akan konflik kepentingan dengan melihat ketua hakim MK yang pada saat itu juga merupakan paman dari anak presiden.

Kritikan dari para pakar dan ahli hukum tata negara atas putusan ini justru tidak membuat kekuasaan introspeksi diri, malah dengan bangganya anak presiden maju sebagai wakil calon presiden dari putusan ketua hakim yang terbukti jelas melanggar etik berat.

MK hari ini yang kita lihat sudah jauh dari koridornya sebagai the guardian of constitution.

Dengan tanpa rasa malu, (variabel) selanjutnya adalah keberpihakan nyata dari presiden Jokowi dan jajarannya dalam proses demokrasi ini yang menunjukkan adanya ketidaknetralan, hal ini membuat pemilu jauh dari aspek jujur dan adil.

Penyaluran bantuan sosial (bansos) menjelang pemilu pun mengalami peningkatan drastis jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Diduga ada upaya kampanye terselubung yang dilakukan oleh presiden Jokowi dan jajaran menterinya dalam menggalang suara dari Masyarakat penerima bantuan tersebut.

Variabel berikutnya yang cukup kuat dalam memenangkan Prabowo-Gibran adalah institusi penyelenggara dan pengawas pemilu yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved