Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Resesi Seks

Istilah sex recession atau resesi seks pertama kali dimunculkan oleh Kate Julian, seorang peneliti dan penulis.

Editor: Sudirman
Ist
Dr Ilham Kadir MA, Peneliti MIUMI/Ketua Komisi Infokom MUI Enrekang 

Maka suami harus punya banyak senjata penangkal, minimal rudal balistik yang dapat menangkis bom Hiroshima-Nagasaki.

Artinya, jika animo laki-laki untuk poligami tinggi, itu bagus, jika fenomena ini berkelanjutan, maka baik bagi pertumbuhan penduduk dan untuk mengantisipasi resesi seks yang sedang melanda dunia.

Selain itu, dan terpenting, memperbanyak keturunan merupakan bagian dari dakwah demografi yang sangat penting dilestarikan.

Demikian pula dari Hadis Nabi, perintah sebagai anjuran dan penekanan untuk menikah sangat banyak.

Termasuk perintah untuk menikahi wanita yang punya cinta yang banyak serta punya riwayat keturunan yang memiliki banyak anak.

Artinya salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk melahirkan anak dan menambah banyak jumlah pengikut Nabi Muhammad sebagaimana dalam hadis.

"Nikahilah wanita penyayang lagi peranak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan jumlah kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat, ” (HR. Abu Daud dan An-Nasaai dari Ma’qil bin Yasar dan Ahmad dan Ibnu Hibban dari Anas bin Malik juga Shahih Abi Daud).

Ada lima dasar utama syariat agama Islam diturunkan ke bumi yaitu: untuk menjaga agama, untuk menjaga jiwa, untuk menjaga keturunan, untuk menjaga akal, dan untuk menjaga harta.

Dari lima poin tersebut, 'menjaga keturunan' adalah salah satu dari tujuan syariat. Dan setiap tindakan yang bisa berakibat pada terjadinya resesi seks harus segera diantisipasi.

Lalu bagaimana dengan program Keluarga Berencana? Latar belakang program KB bermula ketika rakyat Indonesia terlalu laju pertumbuhannya, tidak sinkron dengan pertumbuhan ekonomi.

Sehingga muncul kebijakan supaya kalahiran sebaiknya diatur dan ditata sebaik mungkin.

Tidak dilarang melahirkan banyak anak tetapi disarankan agar anak yang lahir disediakan juga gizi yang baik dan sarana serta prasarana hidup memadai.

Agar orang tua lebih fokus meningkatkan kualitas kehidupan bagi anak-anaknya, mulai dari makan-makanan yang standar gizinya jelas, pendidikan memadai, kesehatan terjamin, dan terpenuhinya segala kebutuhan dasar seperti sandang, papan, pangan, hingga komunikasi, dan transportasi.

Menikah, melakukan hubungan seks suami istri, dan punya anak, bukan hanya sebagai bendungan untuk menahan laju resesi seks.

Tapi yang terpenting dalam agama, itu semua menjadi ibadah yang nilainya sama dengan setengah dari segenap ibadah dalam syariat Islam.

Dan tidak ada ibadah yang durasi waktunya begitu panjang melebihi pernikahan.

Sebab begitu seorang muslim mengikrarkan ijab qabul untuk masuk pintu nikah, maka ia telah menjalankan ibadah hingga ia berpisah dengan istrinya, baik karena cerai atau karena kematian.

Makin lama durasi pernikahan seseorang, makin tinggi pula bobot ibadahnya, jika dikarunia anak, pahala pun bertambah, dan seterusnya.

Maka, niatkankah menikah karena ibadah, bukan selain itu, agar setiap aspek hidup dan kegiatan dalam rumah tangga dinilai sebagai ibadah. Wallahu A'lam!(*)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved