Opini
Resesi Seks
Istilah sex recession atau resesi seks pertama kali dimunculkan oleh Kate Julian, seorang peneliti dan penulis.
Oleh: Dr Ilham Kadir MA
Peneliti MIUMI/Ketua Komisi Infokom MUI Enrekang
Secara bahasa resesi berarti menurun. Kata resesi lebih banyak digunakan pada ilmu ekonomi.
Resesi ekonomi berarti tren ekonomi menurun dengan jangka masa yang lama.
Lalu kata resesi digunakan juga dalam ilmu seksiologi, secara istilah, resesi seks berarti keengganan untuk menikah, tidak tertarik melakukan hubungan seks bersama pasangan, atau menikah tapi tidak ingin memiliki anak.
Lalu apakah Indonesia juga akan terancam resesi seks? Dan bagaimana Islam memandang fenomena resesi seks yang sedang melanda negara-negara maju? Amma ba'du!
Istilah sex recession atau resesi seks pertama kali dimunculkan oleh Kate Julian, seorang peneliti dan penulis.
Ia melakukan riset terkait fenomena hubungan seks yang kian menurun, Julian kemudian mengutip sebuah penelitian dari Jean M Twenge, profesor psikologi di San Diego State University yang melakukan penelitian sederhana, bagaimana kehidupan seksual warga di Amerika Serikat (AS).
Ia lalu mengambil data dari General Social Survey dari 1990-an hingga 2014, Twenge menemukan rata-rata orang dewasa berhubungan seks menurun dari 62 kali dalam setahun jadi 54 kali saja.
Dari hasil wawancaranya dengan para ahli, Julian mendapat berbagai macam jawaban soal penyebab resesi seks di Amerika.
Di antaranya, penggunaan obat antidepresan, tingkat kecemasan tinggi, tekanan ekonomi, video porno, kurang tidur, obesitas, dan cara mendidik orang tua.
Dari Amerika, fenomena menjalar ke Asia, dimulai dari Korea Selatan, China, Jepang, dan terakhir resesi seks melanda Singapura.
Untuk sementara ini, resesi seks masih terlalu jauh dan dini untuk dikhawatirkan di Indonesia.
Sebab secara kultur dan tradisional masyarakat Indonesia masih sangat menghargai pernikahan, dan menjadi bagian dari siklus kehidupan yang sangat sakral. Selain menikah, hanya kelahiran dan kematian yang kurang lebih sama sakralnya.
Sejauh ini belum ada data penelitian untuk masyarakat muda dengan orientasi seks normal yang enggan menikah dan punya anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dr-Ilham-Kadir-MA-Peneliti-MIUMIKetua-Komisi-Infokom-MUI-Enrekang.jpg)