Opini
Resesi Seks
Istilah sex recession atau resesi seks pertama kali dimunculkan oleh Kate Julian, seorang peneliti dan penulis.
Penyebab menurun drastisnya jumlah siswa di berbagai jenjang pendidikan, terutama tingkat dasar karena susksesnya perogram dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk dan keluarga berencana di Indonesia.
Dengan gencarnya Kampung KB hingga Lorong KB, sehingga jumlah kelahiran makin menurun.
Setiap keluarga mulai melakukan pengaturan kelahiran hingga pembatasan jumlah anak.
Selain itu, faktor istri yang mayoritas melahirkan dengan proses cecar juga manjadi alasan pertumbuhan penduduk dapat terkoreksi.
Sebab setiap ibu hamil yang malahirkan melalui proses tidak normal pasti terbatas, dan mayoritas hanya dua anak, walau bisa saja tiga sampai empat, tapi itu langka terjadi.
Fenomena ibu hamil melahirkan tidak normal, selain karena teknologi kesehatan kian canggih, juga dipengaruhi oleh alam bawa sadar para calon ibu bahwa melahirkan normal jauh lebih menyiksa dan menyakitkan.
Padahal, melahirkan lewat cecar memang lebih ringan, tetapi resiko pasca malahirkan bisa terasa sepanjang hayat.
Pandangan Agama
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menikah, bahkan diperintahkan, walau tidak sampai pada wajib hukumnya, hanya sunnah yang ditekankan, 'sunnah mu'akkadah'.
Penekanan pentingnya menikah ditegaskan dalam berbagai ayat, mulai dari perintah menikahkan perempuan-perempuan baik-baik sebagai jalan pembuka pintu rezeki dari Allah (QS. An-Nur: 32).
Hingga anjuran menikahi perempuan hingga dua, tiga, dan empat bagi laki-laki yang mampu dari berbagai sudut pandang, lahir batin, jika kurang mampu, cukup satu istri saja, (QS. An-Nisa': 3).
Fenemona ini menggembirakan bahwa banyak sekali lelaki Indonesia yang punya keinginan untuk memiliki istri lebih dari satu.
Bahkan seminar dan pelatihan yang mengusung tema "poligami" selalu dipenuhi peserta, namun sayang, hasilnya kebanyakan wacana dan menguap di warung kopi.
Sementara pelaku poligami justru tidak pernah ikut pelatihan atau seminar, dan diam-diam ketika diskusi poligami, tetapi dijalani dengan senyap namun nyaman dan pasti.
Sekali lagi, poligami adalah ilmu praktis, begitu dapat ilmunya, langsung aplikasikan, jika dikhawatirkan terjadi 'perang dunia kedua' dalam rumah tangga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dr-Ilham-Kadir-MA-Peneliti-MIUMIKetua-Komisi-Infokom-MUI-Enrekang.jpg)