Klakson

Senior

Di kampung-kampung, suku kata "senior" tak populer sejak zaman Hindia Belanda hingga zaman virus keji seperti saat ini.

Editor: Sudirman
Senior
abdul karim
Abdul Karim, Majelis Demokrasi & Humaniora

Oleh: Abdul Karim

Majelis Demokrasi dan Humaniora

Di kampung-kampung, suku kata "senior" tak populer sejak zaman Hindia Belanda hingga zaman virus keji seperti saat ini.

Tetapi orang-orang kampung yang hijrah ke kota--hijrah karena sekolah atau karena bekerja--begitu familiar dengan suku kata "senior" itu.

Barangkali kata "senior" memang bukan untuk bibir kampung, tetapi pas untuk lidah-lidah kota.

"Senior" memang bersemayam di kota, bukan di kampung pelosok.

Terutama di kalangan mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan, kata "senior" tampak sebagai bahasa pasar.

Rumah "senior" adalah kampus/perguruan tinggi.

Kata itu tak pernah terlerai dengan kampus siapapun menteri pendidikannya, siapapun rektornya.

Dari sanalah kata "senior" ditumbuhkan.

Ia senantiasa dibibit dibibir-bibir manis mahasiswa

. Lalu, keluar merambat ke hampir seluruh organisasi kepemudaan.

Di beberapa institusi luar kampus memang kadangkala "senior" terdengar, tetapi ia bukanlah percakapan hari-hari.

Berbeda dengan kampus, kata "senior" menjadi kata wajib saat berinteraksi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved