Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ngopi Akademik

Kemerdekaan Semu

Jalan-jalan dipenuhi bendera merah putih, gapura dihias, dan anak-anak mulai berlatih lomba tujuh belasan.

Editor: Sudirman
Rahmat Muhammad
OPINI - Rahmat Muhammad Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas 

Oleh: Rahmat Muhammad

Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Euforia rutinitas Agustusan menyambut Hari Kemerdekaan setiap tahun di Indonesia kembali terasa dalam suasana dibuat selalu berbeda supaya tidak membosankan.

Jalan-jalan dipenuhi bendera merah putih, gapura dihias, dan anak-anak mulai berlatih lomba tujuh belasan.

Namun, di balik kemeriahan itu, ada makna yang jauh lebih dalam. Hari Kemerdekaan bukan sekadar perayaan seremonial tetapi momen untuk bertanya “sudahkah cita-cita kemerdekaan benar-benar kita wujudkan?”

Ketika Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa tidak hanya ingin kita bebas dari penjajahan, tetapi juga ingin membangun negara yang melindungi rakyatnya, memajukan kesejahteraan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam Sosiologi, tujuan negara ini bisa dilihat sebagai “kontrak sosial” yang mengikat semua elemen bangsa.

Artinya, kemerdekaan bukan hanya urusan pemerintah, tapi juga tanggung jawab bersama antara negara dan warga. 

Melihat kondisi sekarang, banyak hal yang sudah berubah dibanding masa lalu. Infrastruktur relatif lebih baik, pendidikan lebih luas, layanan kesehatan lebih mudah diakses di banyak tempat tapi pada saat yang sama kita juga tahu, kemajuan ini belum merata sehingga terkesan paradoks.

Di kota-kota besar, rumah sakit modern mudah ditemukan, sementara di desa-desa terpencil, ada warga yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk berobat bahkan akses jalan masih sangat memprihatinkan, di pelosok perkampungan masih ditemukan warga harus menggotong jenazah berjalan kaki puluhan kilometer untuk dikebumikan.

Ketimpangan ini adalah persoalan sosial yang nyata, menunjukkan bahwa perlindungan dan layanan dasar masih belum dinikmati semua orang secara setara.

Begitu juga soal kesejahteraan, ekonomi Indonesia tumbuh tapi tidak semua merasakannya. Masih banyak keluarga yang hidup pas-pasan, bahkan di tengah gedung-gedung mewah dan pusat perbelanjaan yang ramai.

Ada yang punya banyak peluang kerja, tapi ada juga yang kesulitan mendapatkan pekerjaan layak.

Ini berarti, kita belum sepenuhnya berhasil membuat kemerdekaan terasa sama bagi semua orang padahal sudah 80 tahun diperingati. 

Pendidikanpun menghadapi tantangan yang serupa. Memang, lebih banyak anak sekarang bisa sekolah dibanding dulu dilihat dari angka partisipasi sekolah yang meningkat, tetapi kualitas pendidikan dan aksesnya masih belum sama di setiap daerah.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved