Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ngopi Akademik

Kemerdekaan Semu

Jalan-jalan dipenuhi bendera merah putih, gapura dihias, dan anak-anak mulai berlatih lomba tujuh belasan.

Editor: Sudirman
Rahmat Muhammad
OPINI - Rahmat Muhammad Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas 

Sering kita disuguhi berita berapa banyak usia sekolah yang berjibaku dengan alam yang menantang melintasi sungai dan terik matahari tanpa fasilitas jauh dari rasa aman dan nyaman untuk menuntut ilmu di bangku sekolahan. 

Di era digital seperti sekarang, pendidikan bukan cuma soal bisa membaca atau menulis, tapi juga soal mampu berpikir kritis dan memilah informasi.

Sayangnya, banyak orang masih mudah percaya berita bohong atau terjebak pada perpecahan karena kurangnya literasi digital oleh orang orang yang mencari keuntungan pribadi mengorbankan orang lain.

Semua ini menunjukkan bahwa kemerdekaan yang kita miliki masih perlu terus diisi dan diperjuangkan. 

Dahulu, tantangan terbesar kita adalah melawan penjajahan dari luar. Sekarang, tantangannya adalah melawan bentuk-bentuk penjajahan baru “kemiskinan, ketimpangan, dan pudarnya rasa gotong royong” justru yang dihadapi oleh bangsa sendiri.

Semangat Perjuangannya memang selalu dihidupkan dari tahun ke tahun dalam konteks yang berbeda oleh kebijakan pemerintah setiap rezim terhadap rakyatnya terasa semu penuh kepalsuan sekedar membuat senang tidak membahagiakan sebagai dampak dari peringatan itu sendiri.

Dalam sosiologi, kemerdekaan yang ideal adalah ketika setiap orang merasa menjadi bagian dari masyarakat yang saling mendukung.

Nilai gotong royong yang dulu menjadi kekuatan kita, sekarang mulai luntur tergantikan sikap individualistis.

Padahal, tanpa solidaritas sosial, tujuan kemerdekaan akan sulit tercapai.

Kita butuh menghidupkan kembali semangat itu, mulai dari hal-hal sederhana di lingkup terkecil menjaga lingkungan bersama, hingga bersikap adil dan menghormati perbedaan. 

Peringatan hari kemerdekaan ke 80 tahun ini seharusnya tidak berhenti hanya pada upacara dan lomba.

Kita juga perlu menggunakannya untuk merenung ‘apa yang bisa kita lakukan agar tujuan negara semakin dekat tercapai?’ Mungkin kita tidak bisa mengubah semuanya sekaligus, tetapi setiap langkah kecil itu sangat berarti tentu regulator menjadi faktor pendukung.

Peran penting pemerintah dituntut agar bijak dalam memfasilitasi kepentingan semua rakyat dari berbagai aspek tidak terkecuali masalah hukum, ekonomi & politik sehingga kepercayaan rakyat yang kian tergerus ini bisa kembali pulih.

Meskipun dirasakan hal ini makin sulit di tengah maraknya kebijakan pemerintah yang membingungkan dan mengundang polemik seperti pemblokiran rekening, masalah royalti lagu, penertiban tanah terlantar, penyitaan aset rakyat, disharmoni antar instansi pemerintahan.

Kasus kriminal & pembunuhan yang melibatkan aparat, penangkapan tokoh tokoh, ijazah palsu yang tak berujung, aksi tipu tipu, data pribadi, data penerima bantuan sosial dan masih banyak lagi masalah yang penanganannya tidak tuntas menimbulkan keraguan (distrust) pada akhirnya kewibawaan pemerintahpun lambat laun hilang. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved