Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Semua Ingin Cepat: Dosen di Tengah Budaya Instan

Hari ini, banyak mahasiswa tidak hanya ingin belajar. Mereka ingin cepat selesai, cepat paham, cepat lulus, dan cepat mendapatkan hasil.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Nur Afiaty Mursalim Dosen Prodi Sarjana Promosi Kesehatan FIKK UNM 

Oleh: Nur Afiaty Mursalim

Dosen Prodi Sarjana Promosi Kesehatan FIKK UNM

TRIBUN-TIMUR.COM - Satu hal yang semakin sering saya rasakan dalam satu tahun menjadi dosen ASN adalah perubahan cara mahasiswa memandang proses belajar.

Hari ini, banyak mahasiswa tidak hanya ingin belajar. Mereka ingin cepat selesai, cepat paham, cepat lulus, dan cepat mendapatkan hasil.

Pertanyaan seperti “ini penting tidak untuk ujian?” atau “bisa diringkas saja, Bu?” menjadi semakin umum terdengar di ruang kelas.

Sekilas, ini tampak wajar. Dunia memang sedang bergerak cepat. Informasi ada di mana-mana, jawaban bisa diperoleh dalam hitungan detik, dan teknologi membuat hampir semua
hal terasa instan.

Namun di balik kemudahan itu, saya mulai melihat satu hal yang pelan-pelan hilang: kesabaran untuk menjalani proses belajar.

Sebagai dosen yang memulai perjalanan dari guru honorer, melewati empat kali seleksi ASN, hingga akhirnya menjadi dosen di program studi baru Universitas Negeri Makassar, saya
belajar bahwa hampir semua hal yang bernilai tidak pernah datang dengan cepat.

Menjadi ASN tidak terjadi dalam satu kali percobaan. Menjadi dosen tidak terjadi dalam satu langkah.

Bahkan memahami satu konsep sederhana dalam kesehatan masyarakat pun sering membutuhkan waktu, diskusi, dan pengulangan.

Tetapi budaya hari ini sering berkata sebaliknya: jika bisa cepat, mengapa harus lama?

Di ruang kelas, budaya ini mulai terlihat jelas. Mahasiswa lebih nyaman dengan rangkuman daripada bacaan panjang.

Lebih memilih jawaban daripada proses diskusi. Lebih fokus pada “hasil akhir” daripada “jalan menuju pemahaman”.

Padahal, dalam pendidikan, proses justru adalah inti dari pembelajaran itu sendiri.

Jawaban yang benar tidak selalu berarti pemahaman yang benar.

Tugas yang selesai tidak selalu berarti konsep sudah dikuasai.

Dan nilai yang tinggi tidak selalu mencerminkan kemampuan berpikir yang matang.

Saya sering terdiam setelah perkuliahan selesai. Bukan karena tidak ada yang bisa diajarkan lagi, tetapi karena saya bertanya dalam hati: apakah kita sedang mendidik mahasiswa untuk
berpikir, atau hanya untuk menyelesaikan?

Di sisi lain, saya juga memahami bahwa mahasiswa hari ini hidup dalam tekanan yang berbeda.

Tuntutan akademik, ekonomi, media sosial, dan persaingan masa depan membuat mereka terbiasa berpikir serba cepat. Lambat sering dianggap tertinggal.

Di titik ini, peran dosen menjadi semakin rumit.Kami tidak bisa hanya menuntut mahasiswa untuk “lebih sabar”.

Kami juga harus memahami dunia yang membuat mereka menjadi seperti sekarang.

Namun di tengah semua perubahan itu, saya tetap percaya bahwa pendidikan tidak bisa sepenuhnya mengikuti logika kecepatan.

Ada hal-hal yang memang harus diperlambat: berpikir kritis, memahami konsep, membangun empati, dan belajar mengambil keputusan.

Satu tahun menjadi dosen mengajarkan saya bahwa tugas utama saya bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menjaga agar proses belajar tidak hilang di tengah budaya instan.

Karena ketika semuanya menjadi cepat, ada risiko besar yang sering tidak disadari: kita menjadi terbiasa dengan jawaban, tetapi kehilangan kemampuan untuk memahami pertanyaan.

Sebagai dosen muda, saya masih belajar menyeimbangkan semua ini. Antara tuntutan kurikulum, karakter mahasiswa, dan perubahan

zaman yang sangat cepat. Namun satu hal yang terus saya pegang adalah keyakinan bahwa
pendidikan bukan perlombaan kecepatan.
Pendidikan adalah perjalanan.Dan perjalanan, secepat apa pun dunia berubah, tetap
membutuhkan langkah demi langkah.Mungkin inilah tantangan terbesar dosen hari ini:
menjaga agar proses tetap dihargai, di tengah dunia yang semakin tidak sabar.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved