Opini: 'Keracunan' Dana MBG
Keracunan dana MBG menjadi simbol keserakahan yang mengancam hak gizi anak dan masa depan Indonesia.
"Keracunan" Dana MBG
Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa bulan terakhir, publik berkali-kali mendengar berita tentang anak-anak yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ada yang mual, muntah, bahkan harus mendapatkan perawatan medis. Berita itu mengundang keprihatinan karena yang menjadi korban adalah anak-anak yang sesungguhnya sedang menerima haknya.
Namun kini muncul ironi yang jauh lebih besar.
Jika sebelumnya yang diberitakan adalah murid yang diduga keracunan makanan MBG, kini yang "keracunan" justru para pejabat yang mengelola program tersebut.
Bukan keracunan bakteri.
Bukan keracunan makanan.
Melainkan keracunan dana MBG.
Tentu ini bukan keracunan dalam pengertian medis. Ini adalah metafora tentang bagaimana sebagian manusia kehilangan daya tahan moral ketika berhadapan dengan kekuasaan dan anggaran yang sangat besar.
Racun itu bernama keserakahan.
Dalam dunia kesehatan, keracunan terjadi ketika zat berbahaya masuk ke dalam tubuh dan merusak organ-organ kehidupan.
Dalam dunia birokrasi, keracunan terjadi ketika uang masuk ke dalam kesadaran yang lemah lalu merusak akal sehat, nurani, dan integritas.
Awalnya mungkin hanya pembenaran kecil.
"Hanya pinjam sebentar."
"Hanya sedikit."
"Hanya memanfaatkan kesempatan."
Tetapi seperti racun yang perlahan menyebar dalam aliran darah, keserakahan juga merambat diam-diam ke seluruh sistem berpikir. Yang salah terasa biasa. Yang melanggar dianggap lumrah. Yang haram dibungkus dengan berbagai alasan yang tampak rasional.
Padahal dana MBG bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran negara.
Di dalamnya ada wajah anak-anak Indonesia.
Ada murid yang berangkat sekolah hanya dengan sarapan singkong rebus.
Ada yang hanya minum teh manis.
Ada yang bahkan berangkat dengan perut kosong.
Dana itu seharusnya berubah menjadi telur, ikan, sayur, susu, dan makanan bergizi yang membantu mereka belajar dan tumbuh sehat.
Karena itu, ketika dana tersebut dikorupsi, sesungguhnya yang dicuri bukan hanya uang negara.
Yang dicuri adalah kesempatan anak untuk tumbuh lebih baik.
Yang dicuri adalah hak generasi masa depan.
Yang dicuri adalah harapan bangsa.
Inilah yang membuat korupsi di sektor pelayanan publik memiliki dimensi moral yang sangat berat. Korupsi jalan raya mungkin membuat perjalanan menjadi lambat. Korupsi pembangunan gedung mungkin membuat bangunan menjadi buruk. Tetapi korupsi program gizi anak berpotensi merampas kualitas manusia yang akan memimpin bangsa di masa depan.
Lebih menyedihkan lagi karena MBG lahir dari sebuah cita-cita yang sangat mulia. Program ini dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Ia merupakan investasi jangka panjang bagi peradaban bangsa.
Namun seperti banyak kisah dalam sejarah, cita-cita yang luhur sering kali diuji oleh karakter manusia yang mengelolanya.
Di sinilah pelajaran penting bagi kita semua.
Membangun bangsa ternyata bukan hanya soal membuat program yang baik. Jauh lebih sulit adalah membangun manusia yang mampu menjaga amanah program tersebut.
Sebab teknologi dapat dibeli.
Anggaran dapat disediakan.
Regulasi dapat dibuat.
Tetapi integritas tidak bisa diadakan melalui tender.
Integritas lahir dari kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.
Kasus yang terjadi hari ini hendaknya tidak membuat bangsa ini kehilangan harapan terhadap MBG. Yang harus dihukum adalah pelakunya. Yang harus diperbaiki adalah tata kelolanya. Yang harus diperkuat adalah sistem pengawasannya.
Tetapi cita-citanya harus tetap hidup.
Karena jutaan anak Indonesia tetap membutuhkan makanan bergizi.
Tetap membutuhkan perhatian negara.
Tetap membutuhkan masa depan yang lebih baik.
Jika ada pejabat yang "keracunan" dana MBG, maka obatnya bukan menghentikan programnya. Obatnya adalah membersihkan racunnya, memperbaiki sistemnya, dan menghadirkan lebih banyak orang yang bekerja dengan hati nurani.
Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak boleh kalah oleh keserakahan segelintir orang.
Dan sepiring makanan anak-anak Indonesia terlalu berharga untuk diracuni oleh nafsu kekuasaan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muliadi-Saleh-salah-satu-penulis-opini-Tribun-Timur.jpg)