Opini
Semakin Berilmu, Semakin Merendah
Ungkapan Arab ini mengandung hikmah yang sangat mendalam tentang perjalanan seorang pencari ilmu.
Oleh: Dr. Rukman Abdul Rahman Said, Lc., M.Th.I
Dosen/Ketua LP2M UIN Palopo
TRIBUN-TIMUR.COM - Dikatakan dalam ungkapan Arab: إن العلم ثلاثة أشبار: من تعلم شبرا تكبر، ومن تعلم شبرين تواضع، ومن تعلم ثلاثة أشبار أدرك أنه لم يتعلم شيئا.
"Mereka berkata: Ilmu itu tiga jengkal. Barang siapa baru mempelajari satu jengkal, ia menjadi sombong. Barang siapa mempelajari dua jengkal, ia menjadi rendah hati. Dan barang siapa mempelajari tiga jengkal, ia menyadari bahwa dirinya belum mempelajari apa pun."
Ungkapan Arab ini mengandung hikmah yang sangat mendalam tentang perjalanan seorang pencari ilmu.
Ia tidak berbicara tentang ukuran ilmu yang sesungguhnya, melainkan tentang perubahan sikap seseorang seiring bertambahnya pengetahuan yang dimilikinya.
Sering kali kita menjumpai fenomena yang menarik. Seseorang yang baru mempelajari sedikit ilmu merasa dirinya telah mengetahui banyak hal.
Ia mudah menyalahkan orang lain, gemar berdebat, dan ingin selalu dianggap paling benar.
Pengetahuan yang sedikit terkadang melahirkan rasa percaya diri yang berlebihan. Ia melihat dunia dari jendela yang sempit, tetapi mengira telah melihat seluruh cakrawala.
Inilah yang digambarkan oleh ungkapan tersebut dengan kalimat "barang siapa mempelajari satu jengkal, ia menjadi sombong."
Kesombongan lahir bukan karena banyaknya ilmu, melainkan karena sedikitnya ilmu yang dimiliki.
Orang yang pengetahuannya masih terbatas sering kali belum menyadari betapa luasnya lautan ilmu yang belum dijelajahi.
Pepatah Indonesia mengatakan: Tong kosong nyaring bunyinya.
Namun keadaan mulai berubah ketika seseorang melangkah lebih jauh dalam perjalanan intelektualnya.
Ia mulai membaca lebih banyak buku, berdiskusi dengan lebih banyak orang, dan menemukan berbagai perspektif yang berbeda.
Pada tahap ini ia menyadari bahwa sebuah persoalan tidak selalu sesederhana yang dibayangkannya. Banyak hal yang ternyata memiliki dimensi yang kompleks.
Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati. Ia tidak lagi mudah menghakimi, tidak tergesa-gesa menyimpulkan, dan lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Inilah makna dari kalimat "barang siapa mempelajari dua jengkal, ia menjadi rendah hati." Orang dengan karakter ini telah mengadopsi ilmu padi, makin berisi makin merunduk.
Tahap tertinggi dalam ungkapan tersebut adalah ketika seseorang telah menempuh perjalanan ilmu yang panjang. Ia telah membaca, meneliti, mengajar, dan berdialog dengan banyak orang.
Namun justru pada titik itu ia menyadari bahwa apa yang diketahuinya hanyalah setetes air dibandingkan samudra ilmu Allah Swt.
Kesadaran ini pernah diungkapkan oleh para ulama besar sepanjang sejarah. Imam Malik, misalnya, pernah ditanya 40 pertanyaan, dan hanya menjawab 4 atau 8 pertanyaan, sementara sisanya beliau jawab dengan "Lā adrī" (Saya tidak tahu).
Mereka yang diakui keilmuannya justru sering mengatakan, "Saya tidak tahu." Bagi mereka, pengakuan atas keterbatasan diri bukanlah kelemahan, melainkan puncak kebijaksanaan.
Integritas ilmiah terkadang ditunjukkan bukan dengan banyaknya jawaban, tetapi dengan keberanian mengakui batas pengetahuan.
Al-Qur'an sendiri mengingatkan manusia tentang keterbatasan pengetahuannya:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا.
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85)
Ayat ini mengajarkan bahwa sehebat apa pun pencapaian manusia dalam ilmu pengetahuan, semuanya tetap sangat terbatas dibandingkan ilmu Allah yang tidak bertepi.
Di era digital saat ini, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Kemudahan mengakses informasi sering membuat seseorang merasa ahli hanya karena membaca beberapa artikel atau menonton beberapa video.
Padahal informasi bukanlah ilmu, dan ilmu bukanlah kebijaksanaan. Kebijaksanaan lahir ketika ilmu membentuk karakter, melahirkan kerendahan hati, dan mendorong seseorang untuk terus belajar.
Maka ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukanlah seberapa banyak gelar yang diperoleh, seberapa banyak buku yang dibaca, atau seberapa sering pendapat kita diikuti orang lain.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah ilmu itu membuat kita semakin rendah hati, semakin bijaksana, dan semakin sadar akan keterbatasan diri.
Semakin dekat seseorang kepada hakikat ilmu, semakin jauh ia dari kesombongan. Sebab ia memahami bahwa di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu.
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ.
"Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada yang lebih mengetahui." (QS. Yusuf: 76)
Karena itu, perjalanan menuntut ilmu sesungguhnya bukan hanya perjalanan mengisi akal, tetapi juga perjalanan menundukkan ego.
Orang yang benar-benar berilmu bukanlah yang merasa telah sampai, melainkan yang terus berjalan dengan penuh kerendahan hati, seraya menyadari bahwa semakin luas pengetahuan yang ia miliki, semakin luas pula samudra ilmu yang belum ia ketahui.
Itulah sebabnya, puncak ilmu bukanlah kesombongan, melainkan tawadu’. Dan puncak kebijaksanaan adalah menyadari bahwa kita masih harus terus belajar sepanjang hayat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-19-Rukman-Abdul-Rahman-Said-DosenKetua-LP2M-UIN-Palopo.jpg)