Catatan Bola Willy Kumurur
Nuansa Bening di Lembah Air Mata
Dengan beban berat di pundaknya itu, ia mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, lalu bergeser ke kanan.
Oleh: Willy Kumurur
Penikmat Bola
TRIBUN-TIMUR.COM - Di setiap final, sang takdir hanya memilih satu untuk menjadi juara.
Yang menang akan bersorak, yang kalah akan menangis pedih.
Demikian pula yang terjadi pada final Liga Champions Eropa yang mempertemukan dua klub top Eropa: Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal di Puskás Aréna di Budapest, Hungaria.
Setelah bermain sama kuat 1-1, yang tak berubah setelah perpanjangan waktu dua kali lima belas menit, pemenang harus ditentukan melalui adu penalti.
Dari lima pemain PSG, hanya satu yang gagal yaitu Nuno Mendes; dan dipihak Arsenal dari 4 tendangan penalti, satu orang gagal menyarangkan bola ke gawang lawan, yaitu Eberechi Eze.
Skor sementara adu penalti adalah 4-3 untuk PSG.
Saat itu giliran Arsenal yang akan melakukan tendangan.
Jika berhasil, maka skor akan berubah menjadi 4-4, yang berarti adu penalti akan kembali diulang.
Sebaliknya, jika gagal, maka skor akan tetap 4-3 dan PSG akan menjadi juara.
Penendang terakhir dari Arsenal adalah bek berkebangsaan Brasil: Gabriel Magalhães.
Di bawah mistar gawang, kiper PSG asal Rusia, Matvey Safonov, bersiap.
Di belakang gawang, fans PSG mendominasi bangku penonton.
Gabriel berjalan mendekati area penalti.
Sejenak ia menatap ke atas, untuk kemudian mengangkat bola dan meletakkannya tepat di titik putih.
Di antara para penonton, ada sosok penting yang berjasa melambungkan Arsenal ke pentas dunia.
Dia adalah Arsene Wenger, yang pernah mengantarkan Arsenal ke final Liga Champions di musim 2005-2006.
Ia menukangi The Gunners selama 22 tahun.
Dengan wajah tegang ia menantikan Arsenal mewujudkan impian yaitu menjadi juara Liga Champions Eropa.
Wasit meniup peluit sebagai penanda agar Gabriel melaksanakan tugasnya.
Harapan klub, pelatih, pemain dan fans Arsenal di seluruh penjuru dunia diletakkan di pundak Gabriel.
Dengan beban berat di pundaknya itu, ia mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, lalu bergeser ke kanan.
Kemudian berlari untuk menendang bola dengan kaki kirinya.
Bola melesat dengan sangat cepat mengarah ke sudut kiri atas gawang yang dijaga Safonov.
Semua fans Arsenal amat berharap agar bola tak dapat ditangkap oleh Safonov.
Memang benar, bola tak dapat ditangkap karena bola melenceng di atas mistar gawang mengarah ke kerumunan masa pendukung PSG.
Kegagalan Gabriel menghentar Les Parisiens untuk kembali menjadi juara Liga Champions kedua kali setelah pertama kali meraihnya pada musim lalu.
Maka Puskás Aréna itupun pecah menjadi dua lembah.
Lembah sukacita bagi PSG dan para fansnya, sekaligus lembah air mata bagi kubu Arsenal dan para pendukungnya.
Gabriel berjalan gontai.
Ia mengangkat jersey klubnya untuk menutupi wajahnya, sementara itu para pemain dan manajemen klub PSG berhampuran ke lapangan menumpahkan kegembiraannya.
Terkadang sepakbola itu kejam, ujar Mikel Arteta, pelatih Arsenal, mengomentari kegagalan timnya meraih impian.
Dengan pedih Gabriel berjalan tak tentu arah, di tengah riuh-rendah suara para supporter PSG yang memadati Puskas Arena.
Di dalam lembah air mata itulah, sebuah nuansa bening tercipta.
Seseorang mendekati Gabriel.
Ia memeluk Gabriel, memberinya semangat, sambil berbisik lirih, “Kepedihanmu pernah kurasakan. Kegagalanmu pernah kualami. Tetaplah bersemangat, sahabatku.”
Yang datang itu adalah Marquinhos, kapten tim PSG.
Ketika rekan-rekannya meluapkan sukacitanya dalam merayakan keberhasilan PSG malam itu, Marquinhos datang mendekati sahabatnya itu.
Mereka berdua adalah sesama pemain Brasil, yang akan berlaga di Piala Dunia 2026 sebentar lagi.
Gabriel memahami maksud Marquinhos.
Karena di perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar, Brasil tersingkir dalam adu penalti melawan Kroasia, dengan skor 2-4.
Dua pemain Brasil yang gagal menyarangkan bola ke gawang Kroasia adalah Rodrygo (tendangannya ditepis kiper Kroasia, Dominik Livaković) dan Marquinhos yang bola tendangannya membentur tiang gawang.
Jadi, sesaat setelah Gabriel gagal mencetak gol, alam pikiran Marquinhos membawanya kembali ke masa lalu, yang karena kegagalannya dalam adu penalti, Brasil tersingkir secara dini dari pentas Piala Dunia 2022.
Maka alih-alih bersorak-sorai merayakan kemenangan, hatinya membawanya menghampiri Gabriel dan menjadi motivator bagi kompatriotnya.
"Saat itu adalah momen yang amat sulit baginya, karena ia memikul sebuah tanggung jawab yang besar. Saya pernah mengalaminya sendiri dan tahu persis betapa beratnya ketika hal seperti itu dialami oleh seorang pemain," ujar Marquinhos.
Bintang Prancis di Piala Dunia 1998, Frank Leboeuf, kepada kanal ESPN FC mengatakan, “Selalu indah untuk melihat hal-hal seperti yang dipertontonkan Marquinhos. Itulah persahabatan.”
Gabriel menuangkan perasaannya melalui Instagram, sebagaimana yang diwartakan oleh kanal FoxSports.com, “Ini menyakitkan, tetapi saya bangga dengan tim ini dan semua yang telah kami raih bersama musim ini."
Barangkali saja Marquinhos mengingatkan Gabriel, “Dua minggu lagi, kita akan berlaga di Piala Dunia 2026, membela negeri kita. Jangan larut dalam kepedihan.”
Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche berujar bahwa kegagalan adalah "rasa sakit yang mendidik"; kegagalan mengajarkan kita untuk mencintai takdir.
Katimbang meratapi kegagalan, manusia harus merangkulnya dan menjadikannya pelajaran untuk tumbuh.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Willy-Kumurur-1-7112023.jpg)