Catatan Bola Willy Kumurur

Mengharapkan 'Kehadiran' Maradona

“Kami sangat merindukannya. Dia selalu ada untuk kami,” kata Julio Valsi, fans berusia 64 tahun.

Editor: Saldy Irawan
Mengharapkan 'Kehadiran' Maradona
Tribun/ocha Alim
Willy Kumurur

oleh: Willy Kumurur
penikmat bola
 

TRIBUN TIMUR.COM - Adalah selalu sulit ketika kita kehilangan seseorang; karena kehilangannya meninggalkan lubang besar di hati yang tak pernah dapat menutup kembali. Penulis Inggris, Kevin Brooks, berujar demikian. Kepergian legenda bola Argentina, Diego Armando Maradona, meninggalkan lubang besar di hati fans Argentina.
 
Ribuan fans Argentina berkumpul di pasar Souq Waqif yang bersejarah di Doha - Qatar untuk menghormati Maradona, yang meninggal dunia tepat dua tahun yang lalu. Mereka memenuhi jalan-jalan dengan bendera biru-putih Argentina dan terus-menerus menyanyikan lagu-lagu untuk mengenang Maradona.

“Kami sangat merindukannya. Dia selalu ada untuk kami,” kata Julio Valsi, fans berusia 64 tahun. “Kami masih bisa merasakan kehadirannya. Saya yakin dia akan mengawal tim nasional kami dari mana pun dia berada. Kami membutuhkan dia untuk membantu kami sekarang di Qatar.”
 
Fans Argentina terus mengenang zaman keemasan Maradona.

Yang paling dikenang dunia adalah ketika Argentina berjumpa Inggris di perempat final pada 23 Juni 1986. Babak kedua baru berjalan lima menit, dari sisi kiri Maradona memotong ke dalam dan mengirimkan umpan diagonal ke rekannya, Jorge Valdano. Saat itu Valdano ada di batas area penalti Inggris yang dikawal ketat gelandang kiri Inggris, Steven Hodge.

Sementara itu, Maradona berlari ke kotak penalti sambil berharap bahwa Valdano akan mengembalikan bola kepadanya. Valdano menyentuh bola dengan kaki kirinya, bola naik ke atas namun kemudian Hodge menguasainya. Hodge yang membelakangi kotak penalti menendang bola ke arah kotak penalti.

Bola mengarah ke gawang. Kiper Inggris, Peter Shilton, keluar dari sarangnya untuk menjemput bola, namun Maradona yang 20 cm lebih pendek dari Shilton lebih dahulu melompat.

Tangan kiri Maradona menyentuh bola yang terus bergulir masuk gawang pada menit 50 lebih 30 detik. Wasit mengesahkan gol yang kemudian dikenal sebagai gol “tangan Tuhan”.

Empat menit kemudian lahirlah gol kedua Maradona yang dikenal sampai sekarang sebagai The Goal of the Century (gol abad ini). Inggris kalah 1-2 dalam laga bersejarah itu. Usai laga, Maradona dan Hodge bertukar jersey. Bertahun-tahun kemudian, media bisnis Forbes memberitakan bahwa jersey yang dikenakan Maradona ketika menciptakan gol

“Tangan Tuhan” dilelang oleh juru lelang Sotheby’s dan laku dengan harga US $ 9,3 juta (144,150 miliar rupiah).
 
Maradona memimpin rekan-rekannya berhadapan dengan Jerman Barat di final Piala Dunia 1986 yang berlangsung di Stadion Azteca – Meksiko; stadion yang dipadati oleh 114.600 penonton pada 30 Juni 1986. Pasukan Jerman Barat di bawah pimpinan pelatihnya, Franz Beckenbauer, bertabur bintang; di sana ada Karl-Heinz Rummenigge, ada Lothar Matthäus, dll.

Argentina-lah yang memenangkan final itu dengan skor 3-2. Piala Dunia diraih Argentina. Begita laga final usai, Matthäus bertukar jersey dengan Maradona. Setelah kematian Maradona, jersey Maradona yang disimpan oleh Matthäus ditawar dengan harga tinggi.

Los Angeles Times memberitakan bahwa harga jersey Maradona dibanderol dengan harga 5 juta sampai 7,5 juta dollar (77,5 miliar – 116,250 miliar rupiah). Namun Matthäus menolak menjualnya.
 
Tidak lama sebelum Piala Dunia 2022 dimulai, Asociación del Fútbol Argentino (AFA), asosiasi sepak bola Argentina, menerima kaus asli yang dikenakan Maradona pada final Piala Dunia 1986 sebagai hadiah dari legenda Jerman, Lothar Matthäus.
 
"Diego abadi, dia masih bersama kita," kata Presiden FIFA, Gianni Infantino, beberapa hari yang lalu di depan patung Maradona yang diresmikan pada sebuah acara di Qatar yang diselenggarakan oleh konfederasi sepak bola Amerika Selatan CONMEBOL.
 
Fans La Albiceleste sangat berharap agar Lionel Messi, bintang pujaan mereka, dapat mengulang masa kejayaan Maradona di Piala Dunia. Harapan mereka membuncah tatkala menyaksikan Messi mencetak gol indah melawan Meksiko.

Tendangan kaki kiri Messi menyusur lapangan hijau dengan elegan, ibarat sapuan kuas Pablo Picasso di atas kanvas, menaklukkan kiper Meksiko, Guillermo Ochoa, padahal Ochoa begitu perkasa menggagalkan penalti ujung tombak Polandia, Robert Lewandowski di laga sebelumnya. Stadion 974 dinihari nanti akan mempertemukan Argentina dengan tim kuat dari Eropa Timur, Polandia.

Dua striker hebat, Messi dan Lewandowski akan bertempur di gelanggang itu. Benarkah Maradona itu abadi, sehingga fansnya berharap dia hadir di Qatar? Adakah yang abadi di dunia ini? (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved