Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan Bola Willy Kumurur

Pentas Para Penyair Bola

sepak bola menyerang, penguasaan bola yang efektif, garis pertahanan tinggi dan tekanan untuk pemulihan.

Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Willy Kumurur 

oleh: Willy Kumurur
penikmat bola

 

Jika hamparan permadani hijau di Atatürk Olympic Stadium adalah panggung kesusasteraan; maka pasukan Manchester City dan Inter Milan adalah para sasterawan.

"Konflik, kontradiksi dan penyelesaian masalah adalah hal-hal yang dapat ditemukan pada panggung drama, kesusasteraan dan sepakbola," kata penulis tenar Henning Mankell.

"Penulis dan pemain sepakbola melakukan hal yang sama; tak ada orang yang mau membaca karya tulis dan tak seorang pun mau menonton permainan bola, jika karya tulis dan permainan bola tidak menarik"

Lalu, karya sastera manakah yang nanti akan dipentaskan di final Liga Champions dini hari nanti? “Tergantung siapa yang memakai sepatu bola,” kata filsuf dan penyair Italia, Pier Paolo Pasolini. Ia melanjutkan, “Di kaki pemain Amerika Latin, bola adalah puisi, dan puisi akan menjelma menjadi prosa di kaki pemain Eropa.”

Para penggawa Manchester City dan Inter Milan adalah campuran pemain Eropa dan Amerika Latin; maka jika diktum Pasolini digunakan sebagai referensi maka Stadion Atatürk Olympic - Turki bakal menyajikan prosa
dan puisi.

Filsuf bola sekaligus pelatih The Citizens – Manchester City, Pep Guardiola, selalu menghadirkan prosa dan puisi dalam strategi permainan yang diraciknya, karena bagi Pep, dua karya sastra itu adalah keindahan.

Artinya, permainan di lapangan harus mempresentasikan keindahan. Filsafat bola Pep adalah keindahan yang berakar pada empat pilar: sepak bola menyerang, penguasaan bola yang efektif, garis pertahanan tinggi dan
tekanan untuk pemulihan.

Mantan muridnya yang kini menjadi pelatih Manchester United,

Erik ten Hag, pernah mengatakan, “Guardiola hanya ingin memenangkan pertandingan dengan sepak bola yang indah, sama seperti gurunya Johan Cruyff.” Ten Hag menambahkan, “Guardiola membenamkan filosofinya ke dalam diri para pemainnya untuk dijelmakan di lapangan.”

“Saya ingin setiap gerakan pemain adalah cerdas, setiap operan akurat – karena itulah cara kami membuat perbedaan dari tim lainnya; dan hanya itu yang ingin saya lihat,” ujar Pep dalam buku Barça: The Making of the Greatest Team in the World, tulisan Graham Hunter.

Pep menggambarkan Manchester City mencapai final Liga Champions sebagai "mimpi" 
dengan tetap mewaspadai I Nerazzurri – Inter Milan.

Tim Pep Guardiola adalah orkestra yang sempurna yang dengan hebat menampilkan skor besar.

Dan sepak bola yang dihasilkan benar-benar surgawi; kesenangan bagi mata penonton, tulis Wakil Direktur koran Italia, La Gazzetta dello Sport, Andrea Di Caro, usai menyaksikan Real Madrid dihajar City dengan telak 0-4 di leg kedua semifinal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved