Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan Bola Willy Kumurur

Impian Dalam Ketidakpastian

Maka benarlah Albert Camus, filsuf Prancis abad kedua-puluh, tatkala ia berujar bahwa hidup itu penuh ketidakpastian.

Tayang:
DOK PRIBADI
Kolumnis Tribun Timur, Willy Kumurur 

Dengan berhasil “melepaskan beban psikologis” itu, Arteta penuh percaya diri memimpin pasukannya menyerbu tempat laga final Liga Champions, Puskás Aréna di Budapest, Hungaria.

“Pada hari Sabtu nanti, kami akan menjadi juara Eropa,” pungkasnya dengan yakin.

Ini adalah kali kedua Arsenal menjejak final Liga Champions setelah musim 2005-2006, yang dikalahkan oleh Barcelona.

Di seberang sana, Paris Saint-Germain (PSG) melakukan sebuah revolusi sunyi.

Di bawah pimpinan sang manajer Luis Enrique, PSG tidak dibangun di atas altar superstar mahal dan ego yang bersinar sendiri.

Sebelum kedatangan Enrique, PSG adalah klub bertabur bintang: Kylian Mbappe, Neymar Jr, Lionel Messi dan pemain bintang lainnya.

Katimbang menyatu, mereka justru bermain sendiri-sendiri.

Saat itu, PSG menjadi pentas kemegahan tanpa orkestra.

Tiga suara merdu, namun tak pernah bernyanyi dalam harmoni.

Trofi Liga Champions semakin jauh dari jangkauan.

Sepeninggal Neymar dan Messi, Mbappe bersinar sendirian di antara pemain-pemain PSG.

Namun, ia sulit diatur dan malah ingin mendikte pelatih sebagaimana yang dilakukannya kepada pelatih-pelatih sebelumnya: Mauricio Pochettino dan Christophe Galtier.

Ini yang tak disukai oleh Enrique.

Bek Lucas Hernández mengatakan kepada wartawan tentang gaya pelatihnya.

"Jika Anda tidak melakukan apa yang dimintanya, Anda tidak akan bermain. Dan karena kami semua ingin bermain, maka kami semua melakukan persis apa yang dia katakan."

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved