Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Hadis Haji: Dari Ritual ke Sosial, dari Simbol Kehormatan Menuju Simbol Perubahan

Haji itu bukan sekadar perjalanan ritual, melainkan proyek sosial yang konkret—latihan intensif untuk membentuk manusia yang berguna bagi sesamanya. 

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Dr. Amrullah Harun, S.Th.I., M.Hum Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Palopo 

Ritual ini menjadi semacam laboratorium etika: jutaan manusia hidup dalam disiplin moral yang sama – tidak bertengkar, tidak merendahkan, tidak merusak.

Jika pengalaman ini benar-benar diserap, maka sepulang haji seseorang membawa “model sosial” untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. 

Konsep haji mabrur juga sering berhenti pada imajinasi surga masa depan. Padahal, maknanya sangat sosial: kebaikan yang tampak dan manfaat yang nyata.

Tanda ke-mabrur-an bukanlah kekhusyukan sesaat, tetapi perubahan perilaku setelah kembali ke masyarakat. Apakah ia lebih jujur, lebih peduli, lebih adil? Jika tidak ada perubahan itu, maka “mabrur” kehilangan maknanya. 

Haji, dalam hal ini, adalah proses “program ulang” sosial. Seseorang keluar dari rutinitas, melepaskan identitas, dan masuk ke dalam sistem nilai yang menekankan kesetaraan.

Pakaian ihram, misalnya, bukan sekadar simbol kesederhanaan, tetapi cara menghapus hierarki sosial. Semua berdiri setara – tanpa jabatan, tanpa kekayaan.

Pengalaman ini seharusnya tidak berhenti di tanah suci, tetapi dibawa pulang sebagai komitmen keadilan sosial. Namun, realitas sering berlawanan.

Kita masih membeda-bedakan manusia berdasarkan status, bahkan gelar “haji” kadang menjadi alat baru untuk membangun hierarki.

Orang yang berhaji dianggap lebih tinggi, lebih layak dihormati. Padahal, haji justru seharusnya menghapus keinginan untuk meninggikan diri. Ia bukan tiket menuju elitisme, tetapi latihan untuk menjadi pelayan bagi sesama. 

Hadis yang menyebut jamaah haji sebagai “tamu Allah” juga menyimpan makna sosial.

Menjadi tamu berarti dihormati, tetapi juga bertanggung jawab. Tamu yang baik tidak merusak, tidak membuat kegaduhan, dan tidak menyusahkan. 

Jika manusia adalah “tamu Allah”, maka ia harus menjaga bumi: tidak merusak lingkungan, tidak mengeksploitasi, dan tidak menindas sesama. Dari sini, haji melahirkan kesadaran ekologis dan sosial yang lebih luas. 

Sementara itu, hadis tentang haji sebagai “jihad tanpa peperangan” membuka dimensi inklusif. Jihad di sini bukan konflik, melainkan perjuangan spiritual dan sosial.

Haji menjadi ruang setara bagi semua, termasuk perempuan, untuk mendekat kepada Tuhan. Dalam konteks kekinian, semangat ini harusnya menjadikan ruang keagamaan sosial jadi lebih adil dan tidak diskriminatif. 

Ketika Nabi memerintahkan untuk mengambil manasik darinya (QS. Al-Baqarah ayat 200), itu bukan hanya soal tata cara ritual, tetapi juga teladan etis.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved