Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Munafri, Energi Baru Golkar Sulsel

Rata-rata mereka menyatakan Appi layak maju ke gelanggang provinsi sebagai Ketua DPD Golkar, agar Sulsel kembali menjadi “lumbung suara” Golkar.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sudirman
Dok Pribadi Prof Amir Ilyas
OPINI - Prof Amir Ilyas Guru Besar Unhas 

Oleh: Amir Ilyas

Guru Besar Ilmu Hukum Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) yang sedianya akan dihelat pada Agustus 2026, dalam rangka memilih Ketua DPD Golkar Sulsel.

Kini, telah memunculkan sejumlah kandidat potensial yang akan memimpin partai berlambang pohon beringin itu. Salah satu nama yang patut diperhitungkan, tentunya adalah Munafri Arifuddin alias Appi. 

Appi sebagai Ketua DPD II Golkar Makassar sekaligus Walikota Makassar periode 2024 – 2029. Sudah ramai diperbincangkan namanya, oleh para elit politik hingga sejumlah pengamat.

Rata-rata mereka menyatakan Appi layak maju ke gelanggang provinsi sebagai Ketua DPD Golkar, agar Sulsel kembali menjadi “lumbung suara” Golkar.

Layak Maju

Dalam negara demokrasi modern, tidak lagi dapat dipandang partai politik sebagai “kendaraan elektoral” semata.

Dengan melalui UU Parpol dan UU Sektoral politik lainnya, partai politik memiliki fungsi, diantaranya: menjaga sirkulasi elit pemerintahan, pendidikan politik, dan rekrutmen pejabat publik.

Fungsi partai politik tersebut diderivasikan dari prinsip demokrasi, dengan tanpa terkecuali juga terabsorbsi dalam AD/ART partai.

Dalam konteks demikian, Appi tidak ujuk-ujuk, layak maju sebagai Ketua DPD Golkar Sulsel. Baik dalam perspektif legalistik muapun  politik, Appi memenuhi dua elemen tersebut. 

Pertama,  secara normatif-legalistik, dengan berdasarkan UU Partai Politik (UU No 2/2008 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 2/2011), pada pokoknya mengatur, kepemimpinan partai harus melalui mekanisme yang sah menurut “konstitusi internal” organisasi.

Dalam hal ini, legitimasi Calon Ketua  DPD I Golkar bukan sekadar ditentukan dengan melalui kedekatan personal ataupun dengan faktor elite, tetapi juga oleh dukungan struktural yang lahir dari mekanisme organisasi.

Dukungan 21 Ketua DPD II Golkar Daerah kepada Appi saat ini, merupakan konfirmasi yuridis, selain sudah memenuhi syarat seleksi sebagai calon ketua DPD I Golkar. Juga memiliki makna sebagai bentuk legitimasi struktural. 

Dukungan demikian bukan individu biasa dalam tubuh partai, akan tetapi sudah menjadi representasi kelembagaan yang memiliki “hak politik” dalam forum Musda.

Sebuah dukungan yang menunjukkan, bahwa dalam pencalonan memiliki basis organisatoris yang rasional, nyata, dan tidak lahir secara sepihak.

Dukungan tersebut tidak kalah pentingnya sebagai investasi jangka panjang dalam membangun komunikasi horizontal di tubuh partai.

Sebab ada kalanya tantangan besar partai, bukan berasal dari lawan luar partai, tetapi friksi dan fragmentasi di internal partai.

Banyak partai besar mengalami kemunduran karena gagal menjaga soliditas kader. Pada titik demikian, pucuk pimpinan “pohon beringin” Partai  Golkar harus memiliki sensitivitas, siapa yang dikehendaki oleh “akar rumput,” sebagai perekat asa bersama.

Berjuang bersama, akar kuat, dengan “suara” bisa kembali merindangkan beringin di wilayah Timur, Sulawesi Selatan.

Tentu tidak ada yang menafikan, Golkar telah melalui historisitas yang panjang. Dikenal sebagai partai matang dan mapan dalam tradisi organisasi.

Oleh karena itu, dalam proses pemiihan ketua DPD Golkar Sulsel, tidak hanya dalam pertimbangan popularitas (meskipun Appi juga ada di poin itu), namun lebih penting mengutamakan, siapakah orang yang berkapasitas dalam menjaga stabilitas partai. 

Perlu diingat, kepemimpinan yang terlalu konfrontatif, eksklusif, susah bertahan lama dalam tradisi Golkar.

Partai Golkar membutuhkan figur yang dapat menjadi titik temu berbagai kepentingan internal. Appi sudah punya modal itu, di balik pendekatan komunikasinya yang relatif cair dan inklusif untuk kader-kader akar rumput.

Kedua, dalam perspektif “politik pemilihan” ada kekuatan elektoral dimiliki oleh Appi yang kemudian dapat dibaca dan dimaknai sebagai “gejala nonhukum.”

Jika dia selanjutnya sukses menyabet kursi ketua DPD Golkar Sulsel, Gerbong suara pemilih di Makassar plus dengan berfungsinya “akar rumput DPD II” di 21 daerah, sangat besar kemungkinannya Golkar akan kembali “menguning” di DPRD Sulsel.

Jejak rekam politik elektoral Appi adalah fakta empirik yang menunjukkan Golkar akan bisa menjadi besar di tangannya.

Pileg DPRD Sulsel 2024, ia berhasil menangkan di Dapil I Makassar dengan raihan suara pribadi 29.802 suara, meskipun kemudian ia harus meninggalkan kursi legislatif, karena panggilan moralnya oleh DPP Golkar agar berlaga di kompetisi Pilwakot Makassar.

Dan tak tanggung-tanggung, di Pilwakot Makassar 2024, bersama dengan Alia Mustika Ilham, Appi menang telak dengan raihan 319.112 suara (54,72 persen).

Energi Baru

Jika nantinya perhelatan Pilkada benar-benar diserempakan dengan Pemilihan Anggota Legislatif, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota sebagaimana yang dimandatkan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024.

Momentum tersebut, tentunya dapat menjadi energi baru bagi Partai Golkar, kalau Appi sebagai “nahkodanya” DPD Golkar Sulsel

Makassar dengan jumlah pemilih terbanyak (1.037.164, data pemilih 2024) dari 24 Kabupaten/Kota Se-Sulsel.

Berikut dengan Appi sebagai Walikota Makassar yang kemungkinan besarnya akan mencalonkan lagi untuk periode kedua, efek ekor jas “kuning” tidak hanya akan berimplikasi di pemilihan anggota DPRD Makassar, tetapi juga dapat memberi dampak bagi pemilihan anggota DPRD Sulsel.

Energi baru itu, Appi telah memenuhinya dengan pengalaman, syarat regenerasi, hingga kebutuhan akan konsolidasi organisasi.

Pengalaman sebagai Walikota dengan pemilih tidak gampang didikte. Wajah baru, kharismatik, pemimpin muda tapi tetap hormat dengan senioritas keanggotaan partai, saat yang sama tetap dekat dan membaur dengan generasi muda.

Ada penepuhan keanggotaan, selain karena lahir dari bawah, pantang menyerah, basis kader juga tak pernah dia tinggalkan. 

Ombak tidak pernah pilih kasih, pada kapal mana yang akan diuji. Kepemimpinan sejati selalu lahir dari keberanian menantang gelombang zaman.

Dan gelombang reformasi politik Gokar Sulsel. Appi tampaknya sedang diharapkan oleh banyak kader, sebagai energi dan layar baru yang dapat membawa Golkar berlayar lebih jauh, kokoh, dan bermartabat.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved