Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Reef Soundscape: Antropologi Suara dari Laut yang Hidup

Namun modernitas sering membuat manusia memandang laut hanya sebagai hamparan biru yang tampak tenang dari kejauhan.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Prof. Dr. A. Adri Arief, S.Pi. M.Si  Sosiologi Perikanan Unhas 

Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat bahwa dari 1.153 titik pantau, sekitar 33,82 persen berada dalam kondisi buruk, sementara hanya 6,42 persen yang masuk kategori sangat baik.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ekosistem karang Indonesia sedang menghadapi tekanan serius akibat perubahan iklim, sedimentasi, pencemaran, penangkapan ikan destruktif, hingga ekspansi pembangunan pesisir.

Ironisnya, hilangnya soundscape alami laut justru dipicu oleh kebisingan yang dihasilkan manusia sendiri.

Lalu lintas kapal, pengerukan, reklamasi, industri pesisir, dan eksploitasi ruang laut perlahan mengambil alih ruang akustik ekosistem.

Laut dipenuhi suara mesin, sementara suara kehidupan biologis semakin menghilang. Dalam perspektif ekologi politik, kondisi ini dapat dibaca sebagai bentuk kolonialisasi ekologis terhadap ruang hidup laut.

Mungkin problem terbesar manusia modern bukan lagi ketidakmampuan mendengar suara-suara laut, melainkan kegemarannya merayakan kebisingan dirinya sendiri.

Dalam pesta kerakusan yang terus dipertontonkan hari ini, alam diperlakukan sekadar objek konsumsi.

Laut dikeruk, pesisir dipadatkan, dan terumbu karang dihancurkan demi memenuhi hasrat pembangunan tanpa batas. Pada titik itu, kesunyian laut sesungguhnya adalah gema dari peradaban yang terlalu sibuk berpesta di atas kerusakan ekologisnya sendiri.

Menghidupkan Kembali Suara Laut

Menariknya, perkembangan sains modern kini mulai menyadari bahwa laut tidak hanya dapat dipulihkan melalui pendekatan fisik, tetapi juga melalui pendekatan akustik.

Para peneliti mulai memahami bahwa reef soundscape bukan sekadar bunyi latar ekosistem, melainkan bagian penting dari mekanisme ekologis yang membantu kehidupan laut beregenerasi.

Karena itu, sejumlah ilmuwan mencoba menghadirkan kembali “suara kehidupan” ke wilayah terumbu yang rusak.

Salah satu inovasi yang berkembang adalah pemasangan speaker bawah laut yang memutar rekaman soundscape terumbu karang sehat.

Tujuannya bukan sekadar menghadirkan bunyi, tetapi mengembalikan sinyal ekologis yang selama ini menjadi penanda habitat bagi berbagai organisme laut.

Penelitian dari Woods Hole Oceanographic Institution pada tahun 2024 menunjukkan bahwa pemasangan speaker bawah laut mampu meningkatkan pemukiman planula (larva karang) hingga tujuh kali lebih tinggi dibanding area tanpa suara.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved