Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Reef Soundscape: Antropologi Suara dari Laut yang Hidup

Namun modernitas sering membuat manusia memandang laut hanya sebagai hamparan biru yang tampak tenang dari kejauhan.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Prof. Dr. A. Adri Arief, S.Pi. M.Si  Sosiologi Perikanan Unhas 

Dalam kajian ekologi akustik, keanekaragaman hayati selalu berkorelasi dengan keragaman suara yang dihasilkan suatu ekosistem.

Karena itu, semakin sehat suatu ekosistem, semakin kaya pula orkestrasi akustik yang dimilikinya. Bagi organisme laut, soundscape yang kaya dan kompleks berfungsi sebagai panduan orientasi.

Ikan muda dan planula (larva karang) yang menghabiskan masa awal kehidupannya di lautan terbuka sangat bergantung pada suara-suara tersebut untuk menemukan habitat yang tepat untuk tumbuh.

Sains modern kini membuktikan bahwa suara-suara tersebut memiliki fungsi ekologis yang sangat penting.

Penelitian yang dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa larva ikan lebih tertarik menuju kawasan terumbu karang yang memiliki soundscape sehat.

Sebagai perbandingan, area yang rusak tercatat rata-rata 15 desibel lebih sunyi dibanding ekosistem yang masih baik.

Penurunan intensitas suara ini diikuti dengan hilangnya kompleksitas akustik yang selama ini menjadi sinyal navigasi alami bagi larva ikan untuk menemukan habitatnya.

Temuan ini memperlihatkan bahwa laut yang sehat sesungguhnya adalah laut yang masih memiliki orkestrasi suara kehidupan.

Ketika terumbu karang rusak, yang hilang bukan hanya struktur fisik karang, tetapi juga percakapan biologis yang selama jutaan tahun menopang reproduksi kehidupan laut.

Laut yang kehilangan suaranya perlahan turut kehilangan kemampuan untuk memanggil generasi baru penghuninya.

Ketika Laut Kehilangan Suaranya

Di sinilah kesunyian laut menjadi sangat mengkhawatirkan. Kesunyian ekologis bukanlah tanda kedamaian, melainkan sering kali menjadi pertanda bahwa kehidupan sedang terusir dari habitatnya sendiri.

Ketika populasi ikan menurun, karang mati, dan biodiversitas menyusut, suasana bawah laut perlahan berubah layaknya kota hantu.

Soundscape yang miskin membuat larva ikan, invertebrata, dan berbagai organisme muda kehilangan “kompas biologis” untuk pulang.

Kondisi ini menjadi semakin relevan jika melihat situasi terumbu karang di Indonesia saat ini.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved