Psychological Preparedness Menghadapi Banjir Bandang
Dalam konteks bencana, masyarakat perlu mengenal satu konsep penting: psychological preparedness
Setelah banjir, kesiapan psikologis belum selesai. Korban membutuhkan Psychological First Aid atau pertolongan pertama psikologis. Anak yang menangis jangan dimarahi. Lansia yang kebingungan jangan ditinggalkan. Orang tua yang merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan barang perlu didampingi. Korban tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Kadang mereka hanya perlu ditemani, didengarkan, diberi informasi yang benar, dan diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian.
Banjir Bone memberi pelajaran bagi Sulawesi Selatan. Bencana tidak hanya membutuhkan alat berat dan perahu karet. Bencana juga membutuhkan kepala yang tenang, keluarga yang punya rencana, warga yang saling peduli, dan lembaga yang mampu memberi arahan jelas.
Sebab dalam banjir bandang, yang berbahaya bukan hanya derasnya air. Yang juga berbahaya adalah terlambat percaya bahwa bahaya benar-benar sedang datang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260514-Suryanto-7799.jpg)