Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Salam Tribun Timur

Jadwal Tawuran Terencana

Di Makassar, jadwal rutin semakin bertambah. Dulu ada jadwal balapan liar pada momen tertentu. Kini, tawuran remaja pun sudah terjadwal.

Tayang:
Istimewa
BENTROK PEMUDA - Tangkapan layar video amatir saat dua kelompok pemuda di Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, saling bentrok di jalan, Senin (20/4/2026) malam. Perkelahian ini melibatkan pemuda dari Desa Padang Kalua dan Desa Salujambu. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Di Makassar, jadwal rutin semakin bertambah.

Dulu ada jadwal balapan liar pada momen tertentu.

Kini, tawuran remaja pun sudah terjadwal.

Tawuran di Makassar bukan lagi kenakalan remaja. Ini sudah menjadi “agenda”.

Tawuran yang direncanakan. Dijanjikan. Dikoordinasikan.

Media sosial ada arena prakondisi.

Sekira 200 orang berkumpul di tengah malam.

Datang dengan motor.

Membawa busur, parang, samurai, bahkan bom molotov.

Lalu saling serang di jalanan kota.

Makassar, Sabtu dini hari, 9 Mei 2026, bukan sekadar gaduh.

Ia sedang mengirim pesan bahaya.

Bahwa kekerasan kini tidak lagi spontan.

Ia terorganisir.

Ia terjadwal.

Ia bahkan punya “undangan digital”.

Tujuh orang memang berhasil diamankan.

Tetapi angka itu terlalu kecil dibanding ratusan yang terlibat.

Para gembong tawuran itu masih buron.

Lari. Masuk lorong. Hilang dalam gelap.

Dan mungkin, akan muncul lagi di malam berikutnya.

Kejadian itu tak layak lagi disebut geng motor.

Bukan sekadar konvoi liar.

Bukan sekadar ugal-ugalan di jalan.

Tetapi sudah berubah menjadi ekosistem kekerasan.

Ada kelompok.

Ada identitas.

Ada komunikasi.

Ada perencanaan.

Tawuran terencana.

Terjadwal.

Dan yang paling mengkhawatirkan: sebagian besar pelakunya masih di bawah umur.

Anak-anak yang seharusnya belajar, justru belajar saling melukai.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi jika penanganannya juga sudah terjadwal.

Lebih memilukan lagi jika penangkapan para pelaku juga sudah dijadwalkan dan diagendakan. 

Tawuran terjadwal terencana di Makassar itu tak bisa lagi ditangani dengan pola lama. 

Patroli sesaat tidak cukup.

Penangkapan sporadis tidak cukup.

Karena akar masalahnya tidak ada di jalan.

Ia ada di hulu.

Di ruang digital.

Di lingkungan sosial.

Di keluarga yang kehilangan kontrol.

Ketika tawuran bisa diatur lewat aplikasi, maka pengawasan juga harus masuk ke ruang yang sama.

Polisi perlu memperkuat patroli siber.

Memetakan akun, grup, dan pola komunikasi mereka.

Mencegah sebelum mereka berkumpul, bukan hanya membubarkan setelah bentrok.

Di sisi lain, pemerintah kota tidak boleh absen.

Ruang publik bagi anak muda harus dihidupkan.

Kegiatan positif harus diperbanyak.

Karena kekosongan aktivitas sering diisi oleh kekerasan.

Dan keluarga, tidak boleh lagi lengah.

Karena banyak orang tua tidak tahu anaknya keluar malam untuk apa.

Atau mungkin tahu, tapi tak mampu mencegah.

Jika ini terus dibiarkan, maka kota akan hidup dalam dua waktu.

Siang yang normal.

Dan malam yang mencekam.

Makassar tidak boleh terbiasa dengan itu.

Karena ketika tawuran sudah bisa dijadwalkan, maka ketakutan pun akan ikut terjadwal.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar keributan jalanan.

Wassalam!

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved