Opini
Indeks Pendidikan dan Jebakan Produktivitas Rendah
IPM, meski bukan satu-satunya ukuran, adalah cermin paling jujur dari kondisi kapasitas itu.
Demikianlah tampaknya kondisi Indonesia hari ini.
Persoalan bukan hanya kuantitas, melainkan juga kualitas kognitif yang dihasilkan sistem pendidikan.
Hasil PISA 2022 menunjukkan skor matematika siswa Indonesia hanya 366, membaca 359, dan sains 383 — semuanya jauh di bawah rata-rata global (OECD, 2023).
Yang lebih mengkhawatirkan: hanya 18,35 persen siswa mencapai kompetensi minimum Level 2 dalam matematika.
Artinya, lebih dari empat dari lima siswa Indonesia usia 15 tahun tidak memiliki kemampuan dasar yang dianggap fungsional secara memadai dalam percaturan ekonomi modern.
Kualitas pendidikan yang lemah ini langsung terefleksi pada kapasitas produktif bangsa.
Pada 2023, produktivitas tenaga kerja Indonesia hanya USD 14 perjam kerja, secara global menempatkan Indonesia di peringkat ke-5 di ASEAN dan ke-111 dari 189 negara (ILO, 2024).
Struktur pendidikan angkatan kerja menjelaskan bahwa lebih dari 80 % tenaga kerja berpendidikan di bawah perguruan tinggi, sementara lulusan sarjana ke atas hanya 6,82?ri total penduduk (BPS, 2024).
Dalam konteks ini, Indonesia tidak mampu bersaing di sektor bernilai tambah tinggi, namun juga tidak lagi cukup murah untuk bersaing dengan Vietnam atau Bangladesh di sektor padat karya.
Dalam ekonomi pembangunan, ini disebut middle income trap — jebakan di mana negara terlalu mahal untuk bersaing sebagai produsen murah, namun belum cukup inovatif untuk naik ke tangga yang lebih tinggi.
Survei LPEM FEB UI 2024 menunjukkan hanya 17 % penduduk Indonesia yang benar-benar stabil di kelas menengah, turun dari 23 % pada 2018.
Kelas menengah yang menyusut adalah sinyal mengkawatirkan: tanpa lapisan masyarakat terdidik dan produktif yang kuat, motor utama konsumsi domestik dan inovasi akan kehilangan bahan bakar yang selanjutnya berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional/regional.
Cara keluar dari jebakan ini membutuhkan intervensi berlapis yang simultan, bukan parsial.
Pertama, tentu saja pengurangan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) - sekitar 3,7 juta per tahun 2024 - sebagai anasir utama perbaikan RLS dan Harapan Lama Sekolah (HLS) harus terus dimassifkan secara tuntas.
Hal ini untuk memastikan angka IPM secara kuantias, khususnya elemen komposit pendidikan terus membaik hingga target angka partisipasi pendidikan bagi negera maju bisa tercapai.
| Ketika Kampus Membiarkan Rokok Menemukan Rumahnya |
|
|---|
| Siswa SMA Islam Athirah Didorong Bikin Buku Antologi, Karya Tulis Ilmiah, Artikel |
|
|---|
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
| Sa’i Hybrid: Ketika Ibadah Bertemu Fleksibilitas dan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Swasembada Pangan Benteng Utama Ketahanan Negeri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250911-Setiawan-Aswad-Pemerhati-Kebijakan-Publik.jpg)