Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Moderasi Beragama: Menemukan Titik Tengah Melalui Lensa Hadis

Seringkali, agama disalahpahami sebagai kumpulan aturan yang kaku atau, di sisi lain, dianggap terlalu cair hingga kehilangan substansi.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Dr Firdaus, M.Ag Dosen Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar 

Kata "Saddidu" (bersahajalah/luruskanlah) dan "Qaribu" (mendekatlah) mengisyaratkan bahwa dalam beribadah dan berinteraksi, kita dituntut untuk proporsional.

Menolak Ekstremisme dalam Ibadah

Pernah diceritakan tentang tiga orang sahabat yang berniat meningkatkan ketakwaan mereka secara ekstrem: satu ingin salat sepanjang malam tanpa tidur, satu ingin puasa setiap hari tanpa berbuka, dan satu lagi ingin membujang selamanya.

Mendengar hal ini, Rasulullah SAW tidak memuji mereka. Sebaliknya, beliau bersabda:       ...لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Transliterasi

...lakinnī ashūmu wa ufthiru, wa ushallī wa arqudu, wa atazawwajun-nisā'a, faman raghiba ‘an sunnatī falaysa minnī.

Artinya:"...Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku salat dan aku tidur, dan aku pun menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukanlah dari golonganku. (HR. Bukhari & Muslim).

Pesan di balik hadis ini sangat dalam: ketuhanan tidak boleh meniadakan kemanusiaan. Seseorang tidak bisa mencapai derajat "suci" dengan cara menyiksa diri atau mengabaikan fitrahnya sebagai manusia.

Inilah inti dari moderasi. Dalam riwayat lain Rasulullah SAW sangat tegas dalam memberikan perlindungan kepada warga non-muslim yang hidup berdamai dengan umat Islam.

Sebagaimana dijelaskan sebuah hadis yang diriwayakan oleh Imam Bukhari berikut:"Barangsiapa membunuh seorang mu'ahid (non-muslim yang terikat dalam perjanjian damai), maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun." (HR. Bukhari)

Implementasi di Era Modern

Dalam konteks berbangsa dan bermasyarakat saat ini, moderasi beragama yang bersumber dari hadis mencakup beberapa poin kunci:

1.Toleransi Tanpa Kompromi Akidah: Menghargai keberadaan penganut agama lain sebagaimana Nabi menghargai jenazah orang Yahudi yang melintas di hadapannya, namun tetap teguh pada keyakinan pribadi.

2.Anti-Kekerasan: Menyadari bahwa lisan dan tangan seorang Muslim sejati adalah yang membuat orang lain merasa aman. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dalam sebuah hadis berikut:  الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَد .

Artinya: "Seorang Muslim (yang sempurna) adalah orang yang lidah dan tangannya  tidak menyakiti orang lain (orang-orang Muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya). (HR. Muslim).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved