Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Harla GP Ansor: Satu Komando Menuju Kemaslahatan

Pilihan tanggal 10 Muharram bukanlah kebetulan. Hari Asyura dalam tradisi Islam menyimpan makna perjuangan dan pengorbanan.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Rusdianto Sudirman Ketua LBH GP Ansor Provinsi Sulawesi Selatan  

Oleh: Rusdianto Sudirman 

Ketua LBH GP Ansor Provinsi Sulawesi Selatan 

TRIBUN-TIMUR.COM - Pada 24 April 2026, Gerakan Pemuda Ansor genap berusia 92 tahun. Perjalanan hampir seabad ini bukan sekadar catatan waktu, melainkan akumulasi dari peluh, darah, dan air mata yang ditumpahkan kader-kadernya dalam mengawal republik.

 Di usianya yang ke-92, GP Ansor diharapkan tetap “Satu Komando Menuju Kemaslahatan” sebuah frasa yang mungkin terdengar militeristik, tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman spiritual dan sosiologis yang layak dibaca dengan saksama.

Dalam lanskap organisasi kepemudaan Indonesia, GP Ansor menempati posisi yang unik. Ia bukan sekadar underbow Nahdlatul Ulama, melainkan mesin penggerak yang mengonversi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah menjadi kerja-kerja nyata. 

Sejarah mencatat, sebelum bernama Ansor, organisasi ini telah mengalami metamorfosis panjang: dari Syubbanul Wathan pada 1924, Ahlul Wathan pada 1926, Persatuan Pemuda Nahdlatoel Oelama di awal 1934, hingga akhirnya menjadi Ansor Nahdlatoel Oelama pada 24 April 1934 bertepatan dengan 10 Muharram 1353 Hijriah .

Pilihan tanggal 10 Muharram bukanlah kebetulan. Hari Asyura dalam tradisi Islam menyimpan makna perjuangan dan pengorbanan.

Sejak kelahirannya, GP Ansor memang digembleng untuk menjadi “kaum penolong” sebagaimana spirit kaum Ansar Madinah yang membantu kaum Muhajirin. 

Dalam konteks Indonesia, pertolongan itu diwujudkan dalam bentuk pengawalan terhadap ulama, penjagaan terhadap NKRI, dan pembelaan terhadap Pancasila.

Dalam beberapa tahun terakhir, GP Ansor kerap menyuarakan slogan “Satu Komando, Satu Barisan”.

Ini bukan jargon kosong. Di tingkat yang lebih luas, “Ansor Bersatu” sebagai kepatuhan dalam hierarki komando, soliditas gerak, dan peniadaan tindakan semena-mena atas nama individu .

Pertanyaannya: mengapa soliditas ini begitu penting?

GP Ansor bukan organisasi massa tanpa bentuk. Ia memiliki struktur dari tingkat pusat hingga ranting desa atau kelurahan.

Ia juga memiliki sayap semi-otonom bernama Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang dikenal dengan militansi dan keterlatihannya. 

Struktur hierarkis ini hanya akan efektif jika ada satu komando yang tegak lurus. Tanpa komando yang solid, energi besar yang dimiliki Ansor akan terpecah ke berbagai arah dan kehilangan daya dorong.

Namun, komando saja tidak cukup. Ia harus diorientasikan pada tujuan yang jelas: kemaslahatan.

Dalam khazanah Islam, maslahah berarti kebaikan umum sesuatu yang membawa manfaat bagi masyarakat luas dan mencegah kemudaratan.

Di tingkat grassroot, kemaslahatan diterjemahkan dalam bentuk rill. Di beberapa daerah  kader Ansor mengelola lahan pertanian satu hektar melalui program “Ansor Bertani”.

Di atas lahan itu tumbuh 3.000 tanaman semangka, 1.500 melon, dan beragam komoditas hortikultura lainnya. 

Ini adalah langkah konkret menjawab tantangan ekonomi dan memperkuat kemandirian organisasi.

Pertanian mungkin terlihat sepele, tetapi dari situlah kader belajar tentang ketahanan pangan, manajemen, dan kerja kolektif.

Salah satu contohnya di Tangerang Selatan, GP Ansor justru memainkan peran sebagai watchdog kebijakan publik.

Mereka melaporkan dugaan kejanggalan kebijakan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Aparatur Sipil Negara ke Kejaksaan Negeri.

Sekretaris PC GP Ansor Tangsel, Amizar, menyatakan bahwa langkah itu diambil demi transparansi dan keadilan, karena ditemukan ketimpangan signifikan antara tunjangan pejabat dan pegawai level bawah . 

Maslahat, dalam hal ini, berarti membela kepentingan rakyat kecil dan memastikan kekuasaan berjalan di rel yang benar.

Empat Bidang Kemandirian

Untuk mewujudkan kemaslahatan, GP Ansor memerlukan kemandirian. Empat bidang yang harus dimandirikan: finansial, kelembagaan, gerakan, dan kapasitas kader .

Kemandirian finansial menjadi persoalan klasik organisasi kepemudaan. Terlalu banyak organisasi yang kehabisan energi hanya untuk mencari dana operasional.

 Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) memberi contoh bagaimana organisasi bisa membiayai dirinya sendiri tanpa bergantung pada proyek-proyek pemerintah atau donatur besar.

Kemandirian kelembagaan berarti bahwa struktur organisasi tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan di luar Ansor. Ini sensitif, mengingat GP Ansor adalah organisasi yang sering dilirik oleh kekuatan-kekuatan politik.

Kemampuan untuk menjaga jarak yang proporsional dari kekuasaan sambil tetap berkontribusi pada kebangsaan adalah ujian yang tidak ringan.

Kemandirian gerakan terkait dengan kemampuan Ansor untuk menentukan agenda dan narasinya sendiri.

Di era media sosial, terlalu mudah bagi organisasi untuk terombang-ambing oleh trending topic. Ansor harus bisa memilih isu mana yang layak direspon dan mana yang hanya distraksi.

Koherensi: Antara Kata dan Tindakan

Satu komando tidak hanya soal kepatuhan vertikal, tetapi juga koherensi antara visi, program, dan tindakan.

Dalam konteks ini prinsip “koherensi” ditekankan sebagai instrumen untuk memastikan bahwa tidak ada kesenjangan antara perencanaan dan implementasi .

Ini adalah persoalan serius. Banyak organisasi yang pandai menyusun program kerja di atas kertas, tetapi gagal mengeksekusinya di lapangan.

Koherensi berarti bahwa apa yang direncanakan di tingkat pusat harus selaras dengan apa yang dijalankan di tingkat ranting, dan apa yang diklaim sebagai capaian harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Di titik ini, GP Ansor memiliki modal berharga: jaringan yang menjangkau hingga level desa. Kehadiran di tingkat akar rumput inilah yang membuat Ansor berbeda dari organisasi kepemudaan yang hanya eksis di kota-kota besar. 

Seorang kader ranting di pelosok mungkin tidak fasih berbicara tentang geopolitik global, tetapi ia tahu persis apa yang dibutuhkan tetangganya: keamanan saat perayaan hari besar agama, bantuan saat banjir melanda, atau sekadar kepastian bahwa tidak ada kelompok intoleran yang akan mengganggu ketenteraman kampungnya.

Membaca Ulang Trilogi Ukhuwah

Di balik kalimat “Satu Komando Menuju Kemaslahatan”, terdapat fondasi ideologis yang khas Ansor: trilogi ukhuwah.

Ketua Umum GP ,Addin Jauharuddin, dalam sebuah pertemuan dengan akademisi internasional, menjelaskan bahwa Ansor mengusung ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan) .

Trilogi ini penting untuk dipahami secara utuh. Ukhuwah Islamiyah adalah basis identitas. Ukhuwah wathaniyah adalah medan perjuangan.

Dan ukhuwah basyariyah adalah cakrawala peradaban. Ketiganya tidak boleh dipisahkan. Tanpa ukhuwah Islamiyah, Ansor kehilangan akar teologisnya.

 Tanpa ukhuwah wathaniyah, Ansor terjebak dalam sektarianisme. Tanpa ukhuwah basyariyah, Ansor menjadi organisasi yang sempit dan hanya memikirkan diri sendiri.

Dalam praktiknya, trilogi ini diuji oleh berbagai situasi. Ketika kelompok intoleran mencoba memaksakan agenda mereka, Ansor harus bertindak sebagai pengawal Islam moderat sekaligus penjaga kebangsaan dua peran yang sering kali harus dijalankan sekaligus.

Ketika bencana kemanusiaan terjadi, solidaritas Ansor harus melampaui sekat-sekat agama dan nasionalitas.

Tantangan 10 Tahun ke Depan

Usia 92 tahun menandakan kedewasaan, tetapi juga mendekatkan Ansor pada usia satu abad pada 2034. Dalam 10 tahun ke depan, ada beberapa tantangan yang harus dijawab.

Pertama, regenerasi. Pola kaderisasi harus mampu menarik generasi Z dan generasi Alfa yang memiliki karakteristik berbeda dari pendahulu mereka.

Mereka adalah digital native yang terbiasa dengan kecepatan, keterbukaan, dan personalisasi. Jika GP Ansor hanya mengandalkan pola lama pengajian, apel, dan pelatihan fisik ia akan kehilangan daya tarik bagi anak-anak muda ini.

Kedua, relevansi. Dunia bergerak cepat. Isu yang kemarin dianggap penting, hari ini sudah basi.

Ansor perlu mengembangkan kapasitas untuk membaca tren tanpa kehilangan prinsip. Keterlibatan dalam isu ketahanan pangan adalah contoh langkah yang tepat ia menyentuh persoalan konkret yang dihadapi masyarakat sekaligus sejalan dengan agenda nasional .

Ketiga, integritas. Semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula godaan untuk bermain-main dengan kekuasaan dan uang.

Satu komando yang efektif membutuhkan kepercayaan, dan kepercayaan hanya bisa dibangun di atas fondasi integritas. Skandal kecil di tingkat lokal bisa merusak reputasi yang dibangun puluhan tahun.

Keempat, inklusivitas. Jargon “satu komando” bisa saja dibaca secara keliru sebagai penyeragaman yang mematikan kreativitas.

Padahal, komando yang efektif justru memberi ruang bagi inisiatif lokal selama sejalan dengan visi besar organisasi. Keseimbangan antara disiplin organisasi dan otonomi kreatif ini adalah seni yang tidak mudah dipraktikkan.

Pada 2034 nanti, jika arung waktu mengizinkan, GP Ansor akan merayakan satu abad. Satu abad adalah pencapaian yang tidak bisa diremehkan terutama di Indonesia, di mana banyak organisasi kepemudaan lahir dan mati dalam hitungan dekade.

Ketahanan Ansor terletak pada kemampuannya menjadi jembatan: antara pesantren dan kampus, antara tradisi dan modernitas, antara keislaman dan kebangsaan.

 Ia tidak memilih salah satu dan meninggalkan yang lain, melainkan merangkul keduanya dalam ketegangan yang produktif.

“Satu Komando Menuju Kemaslahatan” pada akhirnya adalah pengakuan bahwa perjalanan ini belum selesai. Usia 92 tahun bukanlah puncak, melainkan titik berangkat untuk etape berikutnya.

Jalan menuju kemaslahatan masih panjang. Ia membutuhkan komando yang jelas, barisan yang rapi, dan yang paling penting hati yang ikhlas untuk menolong sesama, sebagaimana spirit kaum Ansar empat belas abad yang lalu.

Selamat Harlah ke-92, GP Ansor. Teruslah menjadi penjaga ulama, pengawal republik, dan penyala harapan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Satu komando, satu barisan, satu tujuan: kemaslahatan untuk semua.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved