Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PSEL Makassar: Membakar Sampah atau Membakar Anggaran?

Sayangnya, postur birokrasi kita masih "gemuk" oleh tenaga kontrak yang rekrutmennya sering kali beraroma titipan politik...

Tayang:
Tribun-timur.com
OPINI - Prof. Dr. Ir. H. Ismail Marzuki, S.Si., M.Si, Guru Besar Universitas Fajar & Ahli Kimia Lingkungan. 

Riset kami menemukan kadar karbon di air sumur warga sekitar Manggala sudah mencapai 27 kali lipat di atas ambang batas.

Ini adalah bom waktu.

Jika PSEL hanya fokus membakar apa yang ada di permukaan tanpa memitigasi polutan B3 yang sudah meresap ke akuifer, maka proyek ini gagal melindungi kesehatan masyarakat.

Langkah Solutif: Jalan Keluar dari Kemacetan

Kita tidak boleh hanya mengeritik tanpa menawarkan kompas. Berikut adalah tawaran solusi strategis:

Hilirisasi Lindi menjadi Aset: Ubah air lindi menjadi pupuk cair organik melalui proses bioremediasi menggunakan mikroorganisme lokal.

Ini jauh lebih ekonomis dan ekologis daripada membiarkannya meracuni tanah.

Inovasi "Smart Bak" & Segregasi Hulu: Kita butuh investasi pada "Smart Bak" di skala rumah tangga (estimasi biaya Rp1.056.444 - Rp1.800.000 per unit) yang dilengkapi sensor dan mikrokontroler.

Dengan pemilahan 4-5 jenis sampah sejak dari rumah, PSEL hanya akan menerima residu kering berkalori tinggi.

Tukar Guling Lahan yang Manusiawi: Kebutuhan lahan ideal PSEL adalah 22-25 hektare untuk mengakomodasi zona penyangga biologis.

Pemkot harus berani melakukan skema tukar guling lahan pemukiman warga di radius bahaya, sembari mendidik warga terdampak menjadi operator teknis di instalasi tersebut.

Integrasi Regional: Makassar tidak bisa berdiri sendiri.

Kerja sama dengan Maros dan Gowa adalah keharusan untuk memastikan suplai bahan baku di atas 1.000 ton per hari demi menjaga stabilitas turbin.

Kesimpulan

PSEL bukan sekadar proyek infrastruktur, ia adalah ujian bagi integritas birokrasi Makassar.

Pilihannya hanya dua: melakukan audit kompetensi SDM secara total dan membenahi sistem pemilahan di hulu, atau membiarkan proyek ini menjadi monumen kegagalan yang memuai bersama tumpukan sampah Antang yang sudah setinggi 10 meter itu.

Makassar menuju Low Carbon City tidak bisa dicapai dengan retorika, melainkan dengan data, sains, dan kejujuran dalam mengelola manusia.

(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved