Opini
Menjaga Marwah Juku Eja: Alarm Profesionalisme di Tengah Badai Sanksi
Memasuki pekan-pekan terakhir Liga Super Indonesia 2025/2026, kita melihat sebuah paradoks yang menyakitkan.
Sanksi yang berulang ini adalah bukti nyata bahwa ada sumbatan profesionalisme yang harus segera dibedah.
Jika masalah fundamental ini tidak diselesaikan secara permanen, maka sanksi-sanksi berikutnya hanyalah bom waktu yang siap menenggelamkan kapal Phinisi kita ke dasar klasemen.
Dilema sanksi FIFA ini menciptakan efek domino.
Ketika manajemen sibuk membereskan urusan ‘dapur’ yang terbakar, fokus pada penguatan skuad menjadi terabaikan.
Akibatnya, pelatih dipaksa bekerja dengan bahan baku yang terbatas di tengah kompetisi yang semakin beringas.
Sanksi ini harus menjadi alarm terakhir: PSM tidak bisa lagi dikelola dengan gaya ‘pemadam kebakaran’ yang baru sibuk bergerak saat api masalah sudah membesar.
Manajemen harus bertransformasi menjadi entitas yang lebih transparan dan akuntabel.
Di sisi lapangan, keterpurukan musim ini menuntut inovasi dari tim pelatih.
Strategi lama yang sudah terbaca lawan harus segera dirombak.
Kita merindukan PSM yang bermain dengan determinasi tinggi namun tetap cerdas secara taktik.
Pelatih harus berani melakukan terobosan, memaksimalkan potensi pemain muda, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk kehilangan taji di kasta tertinggi.
Namun, beban ini tidak bisa dipanggul sendiri oleh manajemen dan pelatih.
Suporter sebagai ‘pemain ke-12’ juga memiliki tanggung jawab besar.
Mendukung dengan cara yang cerdas adalah kunci.
Di masa sulit ini, dukungan moral jauh lebih dibutuhkan daripada cacian yang justru meruntuhkan mental pemain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-14-Hidayat-Marmin.jpg)