Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Berebut Ibah dan Wajah Kemiskinan Perkotaan

Perda Kota Makassar Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis Dan Pengamen Di Kota Makassar.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com
Sopian Tamrin, Dosen Sosiologi FIS-H UNM menulis opini soal Berebut Ibah dan Wajah Kemiskinan Perkotaan 

Tilikan Feminisasi Kemiskinan di Bulan Ramadhan

Sopian Tamrin

TRIBUN-TIMUR.COM- Mendekati penghujung Ramadhan, kendaraan tumpah ruah di jalan-jalan besar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemacetan menjadi pemandangan lumrah. Karena kepadatan itu, saya memilih mengambil arah jalan Tun Abdul Razak menyusur Hertasning dari arah Gowa menuju pusat Kota Makassar. Nahasnya menghindari satu kemacetan malah terperangkap pada kemacetan yang lain. Namun, spontan perjalanan kami terganjal, tapi bukan karena jalan hertasning yang berlubang dan tak kunjung rampung diperbaiki, melainkan terganjal pertanyaan mengapa begitu banyak ‘payabo’ (pengemis) terhampar di sepanjang jalan ini. Belakangan orang-orang menyebut mereka sebagai ‘manusia gerobak’. 

Manusia gerobak tentu bukan manusia yang terbentuk dari, atau berbentuk gerobak. Tapi mereka biasanya disematkan pada pengemis yang membawa gerobak.  Manusia gerobak ini menjamur tepat di musim hujan. Tapi mereka bukan tumbuh karena itu. Entah tumbuhnya dengan cara apa, dan datangnya dari mana. Kenyataannya mereka sudah ada di sana dan mungkin juga sudah menyebar ke mana saja. Ia nampak di sebelah kiri-kanan jalan. Ada yang membawa seorang anak, sebagian bersama dua-tiga orang dan adapula seorang diri ditemani gerobaknya. Dari tatapan mereka seperti menunggu ‘sesuatu’, entah apa, tapi barangkali bukan lailatul qadar karena itu siang hari, bukan malam hari.

Mereka berjejer dengan jarak tertentu, kuat sekali kesannya bahwa ini terhubung satu sama lain. Seperti terkomunikasi dengan baik, memang ada sih orang menyebutnya teroganisasi. Namun, teorganisasi ataupun tidak, itu Adalah wajah kemiskinan di banyak perkotaan. Pertanyaannya kemudian: Apa yang menarik mereka ke sana? Di sisi lain apa yang mendorong mereka dari tempat tinggalnya. 

Masalah Klasik Urbanisasi

Menurut pernyataan pihak dinas sosial beberapa waktu lalu kebanyakan mereka berasal dari luar kota termasuk kabupaten gowa yang terdekat. Pada awal 2026, Pemerintah Kabupaten Gowa mencatat ada 1.015 Keluarga Miskin Ekstrem (KME) yang tersebar di wilayahnya. Mereka adalah warga yang hidup dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan, tinggal di rumah tak layak huni, dan minim akses kesehatan. Kalau mereka kebanyakan dari Gowa maka ruas jalan itu memiliki nilai strategis baginya. Paling tidak Jalan Hertasning dan Tun Abd Razak Adalah salah satu ruas jalan yang padat, dan tidak terlalu mendapatkan perhatian pengawasan pihak terkait. 

Tapi yang lebih penting, kenyataan ini menunjukkan bahwa hubungan kota besar dengan wilayah sekitarnya tidak selalu saling menguntungkan. Dalam banyak kasus, pertumbuhan kota justru mereproduksi kemiskinan di pinggiran. Kota menarik dengan banyak harapan dan peluang, sementara desa dibayang-bayangi dengan ketidakpastian. Ini masalah klasik urbanisasi.

Feminisasi kemiskinan

Mencermati puluhan gerobak yang diparkir di sana, notabene adalah perempuan. Saya tidak benar-benar melihat satupun yang datang mengayunkan gerobaknya. Tiba-tiba saja mereka sudah ada di sana, duduk di samping gerobak. Entah gerobak itu dikendarai suami mereka, namun tak tampak sosok laki-laki sama sekali. Saya berasumsi mereka membawa sendiri, seperti yang pernah kami lihat sebelumnya. Meski hati kecil saya tidak begitu yakin, siapapun dan bagaimanapun itu, mereka mengejawantahkan apa yang dikenal sebagai feminisasi kemiskinan.

Istilah feminisasi kemiskinan populer sejak 1970-an di Amerika Serikat, ketika para peneliti menemukan bahwa proporsi kemiskinan secara tidak proporsional lebih banyak diisi oleh perempuan. Dalam konteks Indonesia, penelitian Rahmawati dan Febrianto (2025) tentang Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) di perkotaan menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami perempuan miskin kota adalah bentuk ketidakadilan sosial yang terstruktur.

Feminisasi kemiskinan tentu bukan sekadar angka. Ia perlu dilihat dalam perspektif feminis bahwa perempuan menjadi korban dari keadaan sosial yang tidak ramah terhadap mereka. Penelitian Elmond Bandauko (2024) tentang pedagang kaki lima perempuan di Afrika, menemukan hal serupa. Ruang publik, menurut mereka, menjadi ruang penghidupan sekaligus tempat rentan.

Katharina Schmidt (2025), meneliti tentang perempuan tunawisma di Jerman, memperkenalkan konsep ‘tubuh sebagai wilayah’. Menurutnya, tubuh perempuan miskin bukan sekadar objek yang perlu ditertibkan, mereka memiliki hak yang sama. Kehadiran mereka justru menjadi isyarat tentang bagaimana ketidakadilan struktural bekerja di ruang perkotaan. Wilayah atau ruang publik sebagai tubuh Adalah hal pertama yang mereka miliki, sekaligus wilayah paling dasar yang mereka perjuangkan. Ketika negara mengusir mereka dari ruang publik, maka tubuh mereka menjadi satu-satunya wilayah tersisa yang mereka punya. 

Berebut Ibah bagi yang Terpinggirkan 

Ini jelas wajah kemiskinan, mereka Adalah golongan yang tidak beruntung dari rias pembangunan kota saat ini. Mereka sedang berebut ruang, terpinggirkan secara struktural. Bagi pemerintah barangkali itu pemandangan yang mengganggu, tapi bagi mereka itulah salah satu cara untuk bertahan hidup sampai saat ini. 

Bagaimanapun ia dipinggirkan oleh keadaan, dan mereka menolak menyerah dan hadir dengan cara yang berbeda. Kebetulan saja saat ini ramadhan, orang-orang berlomba meningkatkan ibadah dan berburu banyak amalan, besok-besok ia akan kembali ke setelan yang lain sebagai strategi adaptasi baru. 

Jika yang lain berebut takjil, mereka berebut ibah. Karena sebenarnya ia tahu bahwa orang-orang Bugis makassar pada umumnya memiliki pesse' (kepekaan) terhadap sesama. Ibah disaat yang lain mengiranya sebagai ibadah memang dapat menjadi lingkaran ‘perilaku baik menyimpang’ yang tidak ada putusnya. Mereka menyadari kemiskinannya, dan oleh karena itu, mereka memainkan citra kemiskinan itu sebagai komoditas. Mereka cukup jeli mengeksploitasi posisi sosialnya sebagai simbol kepapahan yang layak menerima uluran tangan pencari amalan terutama Ramadhan

Lebih ironisnya, sebagian secara sadar, menjadikan anak mereka sebagai properti untuk meraih simpati. Barangkali mereka menjadikannya sebagai alat negosiasi agar kita bisa lebih mudah tersentuh. Cara-cara semacam ini seringkali efektif. Ini semacam mode of production yang dimodifikasi dalam berbagai laku seperti Anjal (Anak jalanan) dengan Surah Ar-rahmannya, hingga komunitas yang berkedok bantuan donasi. 

Apa yang salah?

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved