Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Ilham Kadir

Puasa dan Kesehatan Jiwa

Sudah terlalu banyak ahli menyinggung tentang relasi puasa dan kesehatan raga.

Tayang:
Dokumen Pribadi/Dr Ilham Kadir
PENULIS OPINI - Dr Ilham Kadir MA, Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang. 

Kebutuhan manusia akan syahwat perut dan ‘di bawah perut’ itulah yang menjadi muhlikāt atau menjerumuskan ke jurang kenistaan.

Jika tidak mendapatkan pendidikan, niscaya akan bermaksiat terhadap Rabbnya dan kelak, akan mendapat siksa.

Maka, di antara tujuan utama pendidikan jasadiyah dalam Islam adalah untuk membantu manusia menjalankan kewajiban agama, meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah, serta menerima apa yang diridhai olehNya, dan pada tahap tertentu merasa tergantung, dan butuh untuk berbuat kebaikan.

Pada tahap ini, ibadah puasa sangat efektif dalam meredam syahwat manusia yang berorientasi pada kerusakan jiwa dan raga.

Dengan puasa, manusia mampu meredam dan mengatur keinginannya, terutama syahwat perut dan di bawah perut.

Sebab hal-hal yang halal saja tidak dibolehkan pada waktu tertentu yakni sejak terbit matahari hingga tenggelam, apalagi memang perkara syubhat dan haram, tentu harus dicampakkan jauh-jauh.

Puasa merupakan sarana efektik meredam nafsu yang mengarah kepada kebinasaan di bawah kendali setan dan pada akhirnya menggiring manusia pada level paling hina yakni nereka, tempat ini, bukan asal muasal manusia.

Melalui sarana puasa, jiwa kotor penuh noda akan terkikis.

Nafsu tercela seperti serakah, takabbur membanggakan diri sekaligus merendahkan orang lain, dengki, sirik terhadap kejayaan orang lain dan berangan-angan agar orang sengsara.

Puncaknya, menjadi psikopat sebab dirinya hanya bahagia ketika orang lain sengsara, dan akan sengsara melihat orang lain bahagia.

Berbagai jalan ditempuh untuk menyiksa orang, termasuk membuat laporan dan tuduhan serta sumpah palsu demi menghukum orang lain melalu Aparat Penegak Hukum.

Bahkan, jika perlu bekerjasama dengan jin untuk membuat orang sengsara, memisahkan suami istri, bahkan menyakiti hingga mengakibatkan kematian.

Itu semua akibat jiwa yang dikendalikan nafsu setan. Jika puasa tidak mampu meredam nafsu jahat semacam itu, berarti belum mencapai tujuan ideal syariat puasa.

Sebab, derajat akhir dari puasa adalah taqwa yang pada prinsipnya lebih dekat kepada kesehatan jiwa, sebab jiwa yang takwa adalah mereka yang selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya, jangan sampai terjerumus dalam perkara maksiat dan kemungkaran.

Ibarat berjalan di jalanan penuh duri pada malam gelap gulita.

Kata Ali bin Abi Thalib, "Taqwa itu takut pada Allah, mengamalkan al-Qur'an, dan memiliki persiapan untuk perjalanan panjang di hari akhirat, [al-khauf bil jaliil, al-'amal bit-tanziil, wal isti'daad liyaum ar-rahiil]". Selamat menjalankan Ibadah Puasa!.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved