Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Ilham Kadir

Puasa dan Kesehatan Jiwa

Sudah terlalu banyak ahli menyinggung tentang relasi puasa dan kesehatan raga.

Tayang:
Dokumen Pribadi/Dr Ilham Kadir
PENULIS OPINI - Dr Ilham Kadir MA, Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang. 

Oleh: Ilham Kadir
Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang

TRIBUN-TIMUR.COM - Sudah terlalu banyak ahli menyinggung tentang relasi puasa dan kesehatan raga.

Dan semua sepakat bahwa penyebab terbesar datangnya penyakit berasal dari lambung yang menjadi tempat makanan disimpan dan diproses.

Relasi puasa dengan kesehatan lambung, jantung, paru-paru, otak, dan organ-organ lainnya dalam tubuh telah banyak diteliti oleh para ahli.

Tulisan ini mencoba menjelaskan fungsi puasa dalam mendidik jiwa (tazkiatun-nafs) manusia agar tetap berada dalam fitrahnya untuk menggapai tujuan tertinggi yaitu kembali kepada Allah dan ditempatkan di tempat asal-muasal manusia, yakni surga.

Konsep manusia paling ideal telah ditulis oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam "The Concept of Education in Islam: Framework for an Islamic  Philosophy of Education" bahwa manusia terbagi menjadi dua entitas, yakni: (1) jiwa dan wujud batiniahnya yang meliputi, rūh, nafs, qalb, dan  ‘aql; dan (2) jasad, fakultas jamaniah dan indera-inderanya.

Episentrum atau titik utama seorang manusia adalah qalb atau hati, merupakan pusat spiritual seseorang dan titik paling dekat dengan  Allah, ini juga yang disebut sebagai fitrah; ‘Aql, atau akal, mewakili  kemampuan menalar, berpikir dan memahami, sekaligus mampu  menghukumi sebuah objek, dan ia berhubungan erat dengan hati;  Rūh, atau jiwa, dianggap sebagai unsur ketuhanan yang bersemayam di pusat hati.

Bahkan, ruh diciptakan sebelum jasad tercipta, lalu  mendapat tiupan ruh, maka jadilah manusia, ruh telah ada semenjak azali (sejak dahulu sebelum penciptaan langit dan bumi), seperti adanya malaikat dan iblis, dan pada akhirnya ruh tetap ada setelah hancurnya tubuh manusia, dan ruh kelak akan dihadirkan pada hari pembalasan.

Komponen jiwa berikut adalah nafsu diri atau ego, yang melewati berbagai tahap perkembangan dan pemurnian; Nafs al-Ammārah, jiwa cenderung kepada kejahatan, tahap diri yang pertama dan paling rendah; Nafs al-Lawwāmah, jiwa yang mencela diri sendiri, tahap kedua, ditandai dengan refleksi diri dan penyesalan atas perbuatan salah, dosa, maksiat, dan kemungkaran; Nafs al-Mutmainnah, jiwa dalam kedamaian, tahap tertinggi dari diri, ditandai dengan ketenangan, ridha, dan penuh kepuasan terhadap kehendak dan ketetapan Allah.

Selain itu, jiwa juga meliputi  fitrah, yakni keadaan alami dan suci seseorang saat lahir; Ākhirah, atau akhirat yang melambangkan kehidupan abadi tak terbatas setelah kematian; al-Munjiyāt, berupa sarana keselamatan, tindakan, dan praktik yang mengarah pada keamanan, kebahagiaan, dan kesuksesan spiritual; Tazkiyah an-Nafs, atau penyucian diri, suatu proses pembersihan hati dan jiwa dari penyakit rohani melalui program dan proses pendidikan; Tahzīb al-Ahlāq, yakni penyempurnaan akhlak, perbaikan akhlak dari perilaku tercela seseorang, mencakup pendidikan sebagai ta’dib atau menanamkan ilmu dan iman, bagian ini juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pendidikan; Jihād an-Nafs, merupakan perjuangan melawan diri sendiri, melawan hasrat yang merusak dan membinasakan, dan berusaha mengikuti dorongan batin untuk mencapai pertumbuhan spiritual, pada medan ini terjadi pertempuran hebat antara kekuatan setan yang ingin menjerumuskan dengan tuntunan wahyu, jika tarikan setan lebih kuat berarti akan berada pada kuasa golongan iblis, jika pengaruh tuntunan wahyu lebih besar, berarti akan berada pada teritorial fitrah dan para malaikat; Syaithān, merupakan sebuah entitas—manusia dan jin—yang selalu menggoda dan mengarahkan ke arah kejahatan, dan segala bentuk dosa; Ghaflah, atau keadaan lalai, lupa dan asyik dengan berbagai gangguan duniawi, disebabkan karena pengaruh dan ganguan setan; Dunyā, yakni dunia material tempat kita tinggal saat ini, dan kesenangan serta gangguan yang hakikatnya bersifat sementara; al-Muhlikāt, berupa bahaya  terhadap jiwa, unsur-unsur yang membahayakan kesejahteraan rohani dan mengakibatkan kemerosotan akhlak jiwa dan raga, (Ilham Kadir, "Ilmu Pendidikan Kader Ulama", Banyumas, 2025: 49-51).

Segenap komponen jiwa dan raga setiap manusia pada akhirnya dapat dibaca dari orientasi hidup masing-masing.

Jika tujuan utama hidupnya adalah untuk kesenangan duniawi yang bersifat materialistik semata, maka setiap langkahnya akan didukung oleh setan dan ketenangan dan kepuasaan jiwa dan raganya semua terkait dengan perhiasaan dunia.

Sebaliknya, jika orientasi hidupnya untuk akhirat, mengabdi, menghamba, atau beribadah kepada Allah, maka segenap amal ibadahnya semua dipersembahkan untuk keperluan dan kepentingan di alam akhirat.

Komponen-komponen di atas merupakan unsur-unsur yang  terdapat pada jiwa, dan memang itulah sasaran utama pendidikan  dalam Islam, sebab memang ‘pengetahuan tentang jiwa [nafs] dan  semua hal yang menjadi hak dan kewajibannya, adalah wajib’, kata  ath-Tharifi.

Namun, tidak berarti meninggalkan pendidikan bersifat jasmani, sebab tubuh juga harus dididik dengan pendidikan islami yang membuat tubuh berjalan seiring dengan hukum-hukum syariat, membiasakan diri bergerak untuk keshalehan, sehingga dengan mudah  mampu menjalankan apa yang ditetapkan oleh Allah.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved