Opini
Kemenangan yang Paripurna: Idul Fitri dan Leganya SPT yang Tertunaikan
Kita tidak minum bukan karena diawasi manusia, tetapi karena ada kesadaran yang bekerja di dalam diri.
Kita semua tentu ingin menyambut Idul Fitri nanti dengan hati yang lapang. Ingin pulang kampung tanpa waswas. Ingin bersilaturahmi tanpa ada pikiran yang menggantung.
Namun ada satu hal yang sering kali dilupakan: beban administratif yang ditunda bisa merusak rasa tenang itu.
Batas akhir pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi jatuh pada 31 Maret. Artinya, ketika Idul Fitri tiba sekitar pertengahan hingga akhir Maret, tenggat pelaporan sudah sangat dekat.Bayangkan dua situasi yang berbeda.
Pada situasi pertama, seseorang telah menyelesaikan pelaporan SPT sebelum Idul Fitri. Data sudah rapi. Formulir sudah terkirim. Tidak ada lagi kewajiban yang tertunda.
Pada situasi kedua, seseorang masih menunda. Ia berniat mengurusnya “nanti saja setelah lebaran.” Tetapi di saat yang sama, waktu terus berjalan, sistem bisa padat, dan tekanan psikologis meningkat.
Kemenangan yang paripurna tentu lebih dekat dengan situasi pertama.
SPT sebagai Cermin Kedewasaan
SPT Tahunan sering dipersepsikan sebagai beban teknis. Mengisi formulir, mencocokkan angka, mengumpulkan dokumen. Banyak yang merasa ini hanya kewajiban administratif belaka.
Padahal, SPT adalah cermin kedewasaan warga.
Ia adalah bentuk pengakuan atas aktivitas ekonomi selama setahun penuh. Ia menunjukkan bahwa kita tidak menutup mata terhadap konsekuensi sosial dari penghasilan yang kita terima.
Ketika seseorang melaporkan SPT dengan jujur dan tepat waktu, ia sedang menyampaikan pesan sederhana: saya tidak ingin menyisakan tanggung jawab.
Dan pesan itu memiliki bobot moral.
Karena integritas tidak hanya diukur dari ibadah yang tampak, tetapi juga dari tanggung jawab yang dijalankan dengan sunyi.
Kemenangan Tidak Parsial
Idul Fitri mengajarkan tentang kemenangan. Tetapi kemenangan seperti apa?
| Sa’i Hybrid: Ketika Ibadah Bertemu Fleksibilitas dan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Swasembada Pangan Benteng Utama Ketahanan Negeri |
|
|---|
| Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan? |
|
|---|
| Jangan Asal Tutup Prodi, Green Job Butuh Lulusan Multidisiplin |
|
|---|
| Di Balik Narasi Kemajuan: Membaca Retakan dalam Praktik Pendidikan Kontemporer |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-05-Andi-Wawan-Mulyawan.jpg)