Opini
Kemenangan yang Paripurna: Idul Fitri dan Leganya SPT yang Tertunaikan
Kita tidak minum bukan karena diawasi manusia, tetapi karena ada kesadaran yang bekerja di dalam diri.
Oleh: Andi Wawan Mulyawan
Mahasiswa Program Doktoral UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Takbir itu belum berkumandang. Langit malam Idul Fitri belum benar-benar kita rasakan. Ramadhan masih berjalan, doa-doa masih dipanjatkan, dan hari kemenangan masih menunggu di depan nanti.
Namun justru di fase inilah kita sedang diuji: apakah kemenangan itu akan kita sambut dengan rasa utuh, atau dengan sisa-sisa tanggung jawab yang belum diselesaikan?
Idul Fitri selalu identik dengan kata “kembali”. Kembali bersih. Kembali ringan. Kembali tanpa beban. Tetapi kebersihan dan keringanan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari ketuntasan.
Dan dalam kehidupan sebagai warga negara, salah satu bentuk ketuntasan itu adalah menunaikan kewajiban pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan sebelum tenggat berakhir.
Mungkin terdengar administratif. Bahkan terasa jauh dari suasana spiritual. Tetapi jika direnungkan dengan jernih, ada garis yang menghubungkan disiplin Ramadhan dengan integritas dalam memenuhi kewajiban publik.
Ramadhan dan Sekolah Integritas
Ramadhan bukan hanya tentang lapar dan dahaga. Ia adalah sekolah integritas paling sunyi.
Kita menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal, hanya karena waktu belum tiba. Kita tidak makan bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena sadar ada nilai yang sedang kita jaga.
Kita tidak minum bukan karena diawasi manusia, tetapi karena ada kesadaran yang bekerja di dalam diri.
Ramadhan melatih konsistensi terhadap kewajiban meskipun tidak selalu terlihat orang lain.
Nilai ini sesungguhnya adalah fondasi dari kepatuhan dalam ruang publik. Sebab kepatuhan yang dewasa tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari kesadaran.
Jika selama sebulan penuh kita belajar taat tanpa harus diingatkan, maka setelah Ramadhan seharusnya kita mampu menjaga integritas dalam ruang-ruang lain kehidupan termasuk dalam hal administrasi dan tanggung jawab fiskal.
Menyongsong Idul Fitri Tanpa Beban
| Demokrasi yang Malnutrisi |
|
|---|
| Putusan MK dan Runtuhnya Praktik Multi-Audit Perkara Korupsi |
|
|---|
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-05-Andi-Wawan-Mulyawan.jpg)