Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Puasa di Era "Jemaah Medsosiah": Ujian Takwa Digital

Puasa di era medsos adalah upaya mengembalikan kedaulatan diri dari kendali algoritma.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
muh hasim
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Kasri Riswadi 

Kasri Riswadi

Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel

 

TRIBUN-TIMUR.COM- Dulu, definisi puasa cukup sederhana: menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, di era disrupsi informasi saat ini, definisi klasik tersebut tampaknya perlu dikalibrasi ulang. Puasa hari ini bukan lagi sekadar ujian fisik melawan godaan aroma makanan, melainkan ujian kognitif melawan derasnya arus konten di layar gawai kita.

Kehadiran media sosial telah mengubah lanskap kuasa informasi itu. Jika dulu kebebasan pers adalah sesuatu yang diperjuangkan dari tangan penguasa, kini teknologi telah menyerahkan "tongkat redaksi" itu ke tangan setiap individu. Setiap pemilik akun adalah "prosumen" konsumen sekaligus produsen konten. Di titik inilah, esensi puasa sebagai kontrol diri (self-control) menemukan urgensi barunya: puasa digital.

Rimba Konten "Unfaedah"

Realitas media sosial kita hari ini sayangnya lebih sering menyuguhkan paradoks moral. Alih-alih menjadi ruang edukasi atau hiburan yang sehat, lini masa kita justru sesak oleh konten "receh" yang eksploitatif. Algoritma seringkali lebih berpihak pada hal-hal yang memancing insting dasar manusia: konten yang menonjolkan sisi sensual, gerak tubuh yang menyerempet erotis, hingga narasi provokatif yang memecah belah.

Bahkan, demi mengejar angka engagement atau sekadar viralitas melalui fitur seperti FB Pro atau For Your Page (FYP) di TikTok, batas-batas sakralitas pun kerap diterjang. Penistaan terhadap nilai-nilai agama maupun norma sosial seringkali dibungkus dalam kemasan "konten kreatif" atau komedi, padahal isinya hampa makna dan destruktif bagi mentalitas publik. Di sinilah letak ujian puasanya: sanggupkah kita menahan jari untuk tidak memberikan panggung (klik, share, dan komentar) pada konten-konten unfaedah tersebut?

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa 10 Ramadan Wilayah Makassar

Paradoks Kebebasan dan Fatwa

Secara normatif, sebenarnya lembaga keagamaan tidak tinggal diam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak beberapa tahun telah merilis fatwa pedoman bermuamalah di media sosial. Begitu pula Muhammadiyah yang memperkenalkan "Fiqih Informasi" melalui Akhlak Medsosiah. Tujuannya mulia: menciptakan ekosistem digital yang cerdas, etis, dan bebas dari hoaks maupun kemungkaran digital.

Namun, di lapangan, kita melihat sebuah jurang yang lebar. Fatwa yang disusun dengan kedalaman ilmu seringkali kalah pamor dengan kebebasan yang kebablasan. Ada kesenjangan (gap) yang lebar antara teks keagamaan yang kaku dengan perilaku "jemaah medsosiah" yang hiperaktif. Persoalannya terletak pada daya tarik; seberapa banyak pengguna media sosial yang lebih memilih membaca diktum fatwa dibandingkan menelusuri feed yang penuh warna dan menggoda mata? Di dunia yang kini lebih menghargai simbol visual ketimbang narasi mendalam, panduan moral seringkali hanya menjadi dokumen sunyi di tengah bisingnya notifikasi.

Tantangan terbesar puasa di era medsos adalah fenomena "jari yang lebih cepat dari pikiran." Hasrat untuk menjadi yang paling update, paling eksis, dan paling kritis seringkali menanggalkan pertimbangan etik.

Menuju Kesalehan Digital

Jika media sosial adalah cermin pribadi, maka kualitas "puasa" seseorang tercermin dari bagaimana ia mengendalikan jempolnya. Di ruang digital, kecepatan bukan lagi segalanya. Sebaliknya, kualitas diri justru diukur dari kemampuan untuk sabar dan menahan diri dari godaan konten yang merusak moral.

Menjadi masyarakat maya yang bijaksana menuntut kita untuk memiliki kesabaran sedikit lebih banyak. Kesabaran untuk melakukan verifikasi, kesabaran untuk tidak mengonsumsi konten sensual-provokatif, dan kesabaran untuk tidak memuja eksistensi semu.

Puasa di era medsos adalah upaya mengembalikan kedaulatan diri dari kendali algoritma. Ini adalah bentuk jihad modern: menahan nafsu untuk tidak sekadar menjadi "reaktif" di dunia maya, melainkan menjadi "reflektif". Pada akhirnya, jika kita mampu berpuasa dari godaan konten negatif dan jari yang liar, itulah kemenangan takwa yang sesungguhnya di abad digital. Kita tidak butuh lebih banyak informasi; kita butuh lebih banyak kebijaksanaan.(*) 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved