Kontroversi Kasus Epstein dan Jejaringnya
Epstein sendiri kini sudah tewas di dalam penjara saat berlangsung proses pengadilan di tahun 2019
Oleh: Bagong Suyanto
Guru Besar dan Dosen Sosiologi Anak FISIP Universitas Airlangga
TINDAK kekerasan seksual, berapa pun jumlah korban sesungguhnya pantas dikutuk. Tetapi membaca kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang melibatkan Jeffrey Epstein, kita benar-benar mengelus dada.
Ini adalah salah satu tragedi memilukan yang pernah terjadi di bumi ini. Tidak hanya melibatkan korban yang jumlahnya ratusan atau bahkan mungkin ribuan, yang membuat kasus Epstein menohok nurani adalah keterlibatan sejumlah nama besar, pejabat, artis dan tokoh yang terindikasi sebagai pelaku tindak kekerasan seksual.
Dari tiga juta dokumen dalam Berkas Epstein yang dipublikasikan Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada 30 Januari 2026 lalu, diketahui bahwa ada korespondensi, foto, dan video sejumlah pejabat, tokoh dan selebriti dengan Jeffrey Epstein --terdakwa kejahatan seksual terhadap banyak perempuan dan anak perempuan.
Epstein sendiri kini sudah tewas di dalam penjara saat berlangsung proses pengadilan di tahun 2019. Ia dikhabarkan gantung diri di penjara --meskipun banyak yang sebetulnya meragukan penyebab kematiannya.
Membongkar Jaringan Epstein
Kematian Epstein pada tahun 2019 ternyata bukan menjadi titik akhir dari sebuah skandal besar di balik kasusnya.
Dengan dibukanya ribuan dokumen atau "Epstein Files" di tahun 2026 ini, kita tidak sedang melihat sebuah informasi yang tak terduga, yakni sebuah autopsi atas betapa rapuhnya perlindungan perempuan dan anak perempuan di hadapan kuasa patriarki dan modal.
Kasus Epstein bukan sekadar kasus kriminal biasa. Peristiwa ini adalah cetak biru ("blueprint") bagaimana sistem global gagal melindungi perempuan dan nak dari risiko menjadi korban ulah jahat para pesohor dan pejabat.
Anak dan perempuan adalah korban pertama yang paling menderita akibat kegagalan sistem sosial-politik yang seharusnya melindunginya.
Kalau berbicara idealnya, negara dan masyarakat seharusnya selalu bersikap peka dan senantiasa curiga: jangan-jangan ada orang lain yang ingin mencelakai istri dan anaknya.
Seperti juga tindak kejahatan lain, tindak kekerasan seksual sering terjadi karena kelalaian korban. Tidak sdikit korban terperdaya dan sulit mengelak menjadi korban tindak kekerasan seksual karena kelihaian dan superioritas pelaku.
Kasus Epstein kini menjadi perbincangan publik karena tindak kekerasan yang ia lakukan melibatkan banyak orang terkenal dan terjadi di bawah kerja jaringan yang sangat kuat. Tindak kekerasan seksual yang difasilitasi Epstein terjadi di pusat jaringan elite internasional—politisi, pengusaha, akademisi, dan bangsawan. Dari perspektif analisis gender, Epstein mempraktikkan bentuk ekstrem dari objektifikasi dan komodifikasi tubuh perempuan.
Perempuan dan anak perempuan yang menjadi korban sindikat Epstein, tidak diperlakukan sebagai manusia, melainkan komoditas yang diperjualbelikan untuk memuaskan hasrat dan mengukuhkan pertemanan antarlelaki berkuasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260219-Bagong-Suyanto.jpg)