Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Paradoks Penghargaan: Tentang Waktu, Niat, dan Martabat yang Sering Diabaikan

Paradoks sosial: ketepatan waktu dan kehadiran kalah dihargai dibanding kontribusi material.

Istimewa
OPINI - Muliadi Saleh, salah satu penulis opini Tribun Timur. 

Kearifan lokal Nusantara sejalan dengan hikmah ini. Dalam pepatah Bugis-Makassar dikenal ungkapan: “Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata” usaha sungguh-sungguh dan ketulusanlah yang mengundang rahmat Tuhan. Bukan besarnya tampilan, melainkan kesungguhan niat.

Etika sosial yang sehat semestinya menempatkan tiga hal sebagai pilar penghormatan yakni ketepatan waktu, kehadiran manusia, dan ketulusan niat.

Mereka yang datang tepat waktu sedang menghargai kesepakatan. Mereka yang hadir, meski sederhana, sedang memuliakan relasi. Dan mereka yang memberi sesuai kemampuan sedang menjaga martabatnya.

Jika paradoks ini terus dibiarkan, kita sedang mendidik masyarakat yang belajar bahwa terlambat itu wajar, absen itu aman, dan ketulusan itu kalah pamor dari angka. Kita sedang memindahkan pusat penghargaan dari nilai ke nominal, dari manusia ke transaksi.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar:  apakah kita ingin membangun peradaban kepercayaan, atau sekadar merawat ilusi kehormatan? Sebab pada akhirnya, masyarakat yang besar bukanlah yang paling gemerlap angka transfernya, melainkan yang paling adil dalam menghargai waktu, kehadiran, dan niat baik sesamanya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cinta dan Syukur

 

Cinta dan Syukur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved