Paradoks Penghargaan: Tentang Waktu, Niat, dan Martabat yang Sering Diabaikan
Paradoks sosial: ketepatan waktu dan kehadiran kalah dihargai dibanding kontribusi material.
Paradoks Penghargaan: Tentang Waktu, Niat, dan Martabat yang Sering Diabaikan
Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial
TRIBUN-TIMUR.COM - Kita hidup di tengah paradoks sosial yang nyaris dianggap normal. Mereka yang datang tepat waktu justru harus menunggu, sementara yang terlambat sering disambut lebih hangat.
Jam undangan telah ditentukan, kesepakatan telah diumumkan, namun ketepatan kehilangan kehormatannya. Yang patuh waktu duduk bersabar, yang melanggar waktu kerap dimaklumi, bahkan dimuliakan.
Dalam kajian sosiologi, waktu bukan sekadar angka di jam, melainkan simbol kepercayaan. Edward T. Hall menyebutnya sebagai social contract yang tak tertulis.
Penelitian Robert Putnam tentang social capital menunjukkan bahwa masyarakat dengan budaya tepat waktu cenderung memiliki tingkat kepercayaan sosial (trust) yang lebih tinggi, partisipasi publik yang kuat, dan konflik yang lebih rendah. Sebaliknya, toleransi berlebihan terhadap keterlambatan perlahan menggerus rasa saling menghargai.
Namun paradoks ini tidak berhenti pada soal waktu. Ia menjalar ke wilayah yang lebih halus berupa penghargaan terhadap kehadiran dan pemberian.
Dalam hajatan dan acara sosial misalnya, terkadang muncul praktik yang makin lazim. Nama boleh tak tercantum di kursi tamu, wajah boleh tak hadir di lokasi, tetapi transfer telah lebih dulu masuk.
Anehnya, mereka yang tidak hadir namun “nyambung” sering disebut-sebut, didoakan secara khusus, bahkan dipuji di depan hadirin.
Sementara itu, mereka yang hadir secara fisik meluangkan waktu, tenaga, dan niat, namun hanya mampu memberi sedikit, atau sekadar datang membawa doa dan ketulusan, kerap terpinggirkan secara halus. Tatapan berubah, sikap mendingin. Nilai kehadiran seolah kalah oleh nominal.
Di sinilah paradoks penghargaan semu bekerja namun terkadang paling melukai. Yang hadir dinilai dari isi amplop, yang absen dimuliakan karena angka transfer. Etika sosial kita perlahan bergeser dari makna menuju kalkulasi dan transaksional.
Agama sesungguhnya telah memberi penuntun yang jernih. Al-Qur’an mengingatkan, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Prinsip ini menegaskan bahwa nilai amal selalu terkait kemampuan, bukan perbandingan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
Para sufi menempatkan niat sebagai pusat semesta moral. Jalaluddin Rumi berkata, “Yang sampai kepada Tuhan bukanlah apa yang kau genggam, tetapi apa yang kau relakan.”
Sementara Ibn Atha’illah mengingatkan, “Jangan kecilkan amal karena sedikit, sebab yang menerimanya adalah Allah.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/OPINI-Muliadi-Saleh.jpg)