Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Riset Pimnas 'Mestinya' Jadi Cermin Kemajuan Bangsa

Inisiatif yang awalnya digagas Direktorat Pendidikan Tinggi ini lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa bukan hanya objek pendidikan

Editor: Sudirman
Tribunnews.com/ist
OPINI - Ahmad Bahar Juara III Bidang IPA Pimnas ke-6 di IKIP Semarang 1993/Dosen Ilmu Kelautan Unhas 

Oleh: Ahmad Bahar

Juara III Bidang IPA Pimnas ke-6 di IKIP Semarang 1993/Dosen Ilmu Kelautan Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - SEJAK pertama kali diselenggarakan tahun 1988, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) menjadi arena intelektual mahasiswa terbesar yang dimiliki Indonesia untuk memamerkan kreativitas, inovasi, dan gagasan masa depan dari generasi mudanya.

Inisiatif yang awalnya digagas Direktorat Pendidikan Tinggi ini lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa bukan hanya objek pendidikan, tetapi agen strategis kemajuan bangsa.

Pada masa itu, pemerintah memahami bahwa negara-negara maju telah menjadikan kampus sebagai pusat riset dan inovasi; karena itu Indonesia membutuhkan ruang di mana ide-ide mahasiswa dapat tumbuh, diuji, dan diakui.

PIMNAS kemudian berkembang menjadi ajang puncak Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sebuah ekosistem mini riset nasional yang melibatkan ratusan perguruan tinggi dan puluhan ribu mahasiswa setiap tahun.

Selama tiga dekade lebih, PIMNAS bukan sekadar kompetisi, melainkan momentum pembuktian bahwa masa depan Indonesia sesungguhnya sangat kaya dengan talenta ilmiah.

Melihat perjalanan sejarahnya, kualitas karya ilmiah yang tampil di Pimnas mengalami evolusi yang sangat signifikan.

PIMNAS generasi awal, karya mahasiswa cenderung berfokus pada teknologi tepat guna dan kebutuhan desa: alat penjernih air sederhana, teknologi pascapanen, inovasi pengolahan pangan tradisional, atau sistem energi alternatif skala kecil.

Karya-karya tersebut penting karena menjawab kebutuhan masyarakat era itu. Namun memasuki tahun 2000-an, arah inovasi berubah drastis.

Mahasiswa mulai merambah bioteknologi, teknik informatika, dan riset kesehatan berbasis laboratorium.

Pada PIMNAS 2010-an, muncul gelombang baru berupa aplikasi digital, perangkat sensor, riset rekayasa genetika, hingga robotika dasar.

Kini, pada PIMNAS ke-38, lonjakan kualitas menjadi semakin terasa.

Mahasiswa mampu menghasilkan model kecerdasan buatan untuk deteksi dini penyakit, sistem monitoring berbasis IoT untuk mitigasi bencana, rekayasa probiotik unggul untuk akuakultur, desain material maju berbahan limbah laut, rekayasa ketahanan pangan presisi, hingga inovasi kebijakan publik berbasis big data.

Kualitas ilmiah mahasiswa Indonesia meningkat pesat; mereka tidak hanya membuat prototipe, tetapi mampu menyusun research design, validity test, dan impact analysis secara profesional.

Ironisnya, peningkatan kualitas inovasi mahasiswa itu tidak berjalan seiring dengan kemajuan teknologi nasional.

Riset mahasiswa tumbuh eksponensial, tetapi ekosistem teknologi Indonesia bergerak perlahan.

Banyak temuan PIMNAS berakhir sebagai pajangan poster atau dokumentasi laporan, bukan sebagai teknologi yang digunakan masyarakat.

Ketika mahasiswa mampu berinovasi dengan teknologi kecerdasan buatan, industri nasional masih berkutat pada adopsi teknologi impor.

Kita memiliki generasi inovatif, tetapi belum memiliki negara yang siap memanfaatkan inovasi mereka.

Padahal sejarah dunia membuktikan bahwa kemajuan bangsa selalu ditopang oleh riset dan inovasi. Tidak ada negara maju yang melompat ke depan tanpa menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pilar pembangunan.

Lihatlah Jepang, China dan Korea Selatan. Korea Selatan pada 1960-an, PDB per kapitanya hanya setara negara-negara Afrika.

Namun pemerintah berinvestasi besar dalam riset kampus, kemitraan industri, dan pendidikan teknik.

Hasilnya: dalam 50 tahun, Korea menjadi pusat elektronik dunia. Semua itu dimulai dari keyakinan bahwa kampus adalah mesin utama kemajuan.

Di negara-negara maju, kontribusi ekonomi perguruan tinggi memang mencengangkan.

Pada Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia 2025 baru-baru ini, Wakil Menteri Diktiristek, Prof. Stella Christie, Ph.D, mengungkapkan bahwa universitas di Amerika Serikat menyumbang triliunan dolar terhadap ekonomi nasional setiap tahun melalui riset, paten, lisensi teknologi, spin-off companies, dan industri berbasis pengetahuan.

Universitas Stanford, misalnya, menghasilkan sekitar 40.000 perusahaan start-up yang nilai ekonominya mencapai lebih dari US$ 2,7 triliun.

MIT melahirkan lebih dari 30.000 perusahaan berbasis riset dengan kontribusi ekonomi sekitar US$ 2 Triliun.

Ekosistem semacam itu terjadi bukan karena mahasiswa Amerika lebih pintar daripada mahasiswa Indonesia, tetapi karena negara menghargai inovasi sebagai pilar pembangunan.

Di negara maju, riset kampus bukan formalitas; ia adalah industri.

Jadi apa sebenarnya masalahnya di Indonesia? Mengapa riset mahasiswa kita—yang kualitasnya tidak kalah—hanya berhenti di meja juri PIMNAS? Masalahnya terletak pada ekosistem inovasi nasional yang belum terintegrasi.

Pertama, hilirisasi lemah. Tidak ada kanal sistematis yang menghubungkan riset mahasiswa dengan dunia industri.

Proposal PKM selesai, karya selesai, dan inovasi berhenti. Kedua, pendanaan riset tidak berkelanjutan.

Banyak prototipe sebenarnya membutuhkan pengembangan dua hingga tiga tahun, tetapi pendanaan hanya disediakan untuk satu siklus ajang kompetisi.

Ketiga, industri nasional lebih memilih teknologi impor yang dianggap sudah matang, padahal banyak inovasi mahasiswa sebenarnya sangat kompetitif dan lebih murah.

Keempat, birokrasi perguruan tinggi terlalu administratif dan kurang memiliki mekanisme incubator to industry yang efektif.

Kelima, tidak ada insentif kebijakan yang memaksa pemerintah daerah atau industri untuk mengadopsi inovasi anak muda.

Di banyak negara, adopsi inovasi lokal adalah mandat hukum; di Indonesia masih bersifat sukarela. Keenam, budaya riset belum menjadi budaya bangsa.

Kita menghargai juara lomba, tetapi belum menghargai proses riset jangka panjang.

Ketujuh, belum ada mekanisme penghargaan nasional yang mengharuskan inovasi Pimnas menjadi bahan kebijakan publik, padahal banyak gagasan mahasiswa sebenarnya dapat menjadi solusi pembangunan daerah dan nasional.

Prestasi Unhas dua tahun berturut-turut menjuarai Pimnas ini seharusnya menjadi momentum kebangkitan kreativitas dan inovasi dari wilayah timur Indonesia yang merupakan aset strategis pembangunan bangsa.

Jika Indonesia ingin menjadi negara maju, inovasi Pimnas harus diintegrasikan ke industri dan kebijakan nasional.

Pemerintah harus menyediakan pendanaan jangka panjang untuk pengembangan prototipe. Pemerintah daerah harus diwajibkan mengadopsi teknologi lokal.

Industri harus diberikan insentif fiskal bila memanfaatkan inovasi kampus. Dan perguruan tinggi harus membangun inkubator teknologi yang kuat.

Jika langkah-langkah ini dilakukan, maka dalam waktu 10–20 tahun Indonesia dapat memiliki ribuan inovasi yang menjadi fondasi ekonomi masa depan. 

Selamat Kepada Tim PIMNAS Unhas, meraih piala Adikarta Kertawidya kedua kalinya. Sungguh terasa matahari kini bersinar dari Timur.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Pilihan

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved