Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Riset Pimnas 'Mestinya' Jadi Cermin Kemajuan Bangsa

Inisiatif yang awalnya digagas Direktorat Pendidikan Tinggi ini lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa bukan hanya objek pendidikan

Editor: Sudirman
Tribunnews.com/ist
OPINI - Ahmad Bahar Juara III Bidang IPA Pimnas ke-6 di IKIP Semarang 1993/Dosen Ilmu Kelautan Unhas 

Jadi apa sebenarnya masalahnya di Indonesia? Mengapa riset mahasiswa kita—yang kualitasnya tidak kalah—hanya berhenti di meja juri PIMNAS? Masalahnya terletak pada ekosistem inovasi nasional yang belum terintegrasi.

Pertama, hilirisasi lemah. Tidak ada kanal sistematis yang menghubungkan riset mahasiswa dengan dunia industri.

Proposal PKM selesai, karya selesai, dan inovasi berhenti. Kedua, pendanaan riset tidak berkelanjutan.

Banyak prototipe sebenarnya membutuhkan pengembangan dua hingga tiga tahun, tetapi pendanaan hanya disediakan untuk satu siklus ajang kompetisi.

Ketiga, industri nasional lebih memilih teknologi impor yang dianggap sudah matang, padahal banyak inovasi mahasiswa sebenarnya sangat kompetitif dan lebih murah.

Keempat, birokrasi perguruan tinggi terlalu administratif dan kurang memiliki mekanisme incubator to industry yang efektif.

Kelima, tidak ada insentif kebijakan yang memaksa pemerintah daerah atau industri untuk mengadopsi inovasi anak muda.

Di banyak negara, adopsi inovasi lokal adalah mandat hukum; di Indonesia masih bersifat sukarela. Keenam, budaya riset belum menjadi budaya bangsa.

Kita menghargai juara lomba, tetapi belum menghargai proses riset jangka panjang.

Ketujuh, belum ada mekanisme penghargaan nasional yang mengharuskan inovasi Pimnas menjadi bahan kebijakan publik, padahal banyak gagasan mahasiswa sebenarnya dapat menjadi solusi pembangunan daerah dan nasional.

Prestasi Unhas dua tahun berturut-turut menjuarai Pimnas ini seharusnya menjadi momentum kebangkitan kreativitas dan inovasi dari wilayah timur Indonesia yang merupakan aset strategis pembangunan bangsa.

Jika Indonesia ingin menjadi negara maju, inovasi Pimnas harus diintegrasikan ke industri dan kebijakan nasional.

Pemerintah harus menyediakan pendanaan jangka panjang untuk pengembangan prototipe. Pemerintah daerah harus diwajibkan mengadopsi teknologi lokal.

Industri harus diberikan insentif fiskal bila memanfaatkan inovasi kampus. Dan perguruan tinggi harus membangun inkubator teknologi yang kuat.

Jika langkah-langkah ini dilakukan, maka dalam waktu 10–20 tahun Indonesia dapat memiliki ribuan inovasi yang menjadi fondasi ekonomi masa depan. 

Selamat Kepada Tim PIMNAS Unhas, meraih piala Adikarta Kertawidya kedua kalinya. Sungguh terasa matahari kini bersinar dari Timur.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved