Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Andi Adri Arief

Ketika Pemuda Bahari Kehilangan Lautnya: Membaca Ulang Sumpah Pemuda

Laut kini dikuasai izin, modal besar, dan kepentingan ekspor. Sementara di desa-desa pesisir, biaya melaut mahal, harga ikan tak stabil ...

Editor: AS Kambie
Ist
PENULIS OPINI - Prof Dr Andi Adri Arief SPi MSi, Guru Besar Sosiologi Perikanan Universitas Hasanuddin. Foto ini diterima Tribun-Timur.com dari Prof Andi Adri Arief pada September 2025 untuk keperluan identitas penulis Opini Tribun Timur. 

Sumpah Pemuda sejatinya lahir dari kesadaran akan perbedaan. Mereka bersatu bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan untuk hidup bersama di dalamnya. Kini, perbedaan itu kian dipersempit oleh kebijakan yang seragam dan sentralistik. Padahal, justru ruang-ruang perbedaan — termasuk cara hidup bahari — jika diisi dengan keadilan, akan memperkuat persatuan.

Oleh karena itu, membaca ulang Sumpah Pemuda bukan sekadar nostalgia historis, melainkan kritik struktural terhadap ketimpangan ruang dan kesempatan bagi generasi bahari. Persatuan tidak akan hidup tanpa keadilan, dan keadilan tidak akan hadir tanpa ruang perbedaan. Pemuda bahari harus diberi hak untuk mengelola lautnya sendiri — melalui koperasi pesisir, sekolah rakyat bahari, digitalisasi, atau teknologi adaptif yang berpihak pada ekologi dan ekonomi lokal.

Sumpah Pemuda bahari hari ini mestinya berbunyi: “Kami, pemuda bahari, bersumpah untuk menjaga laut sebagai ruang hidup bersama; bukan untuk dikuasai, tetapi untuk dibagi secara adil.”

Sebab laut bukan hanya sumber daya, ia adalah ruang persatuan sejati, tempat setiap gelombang memiliki irama sendiri — dan justru di sanalah Indonesia menemukan kesatuannya.

Hanya dengan keadilan yang terdistribusi merata, Sumpah Pemuda menemukan makna sejatinya. Sebab seperti laut yang menyatukan pulau-pulau, keadilanlah yang menyatukan manusia. Dan seperti perahu yang hanya seimbang bila semua dayung bergerak bersama, Indonesia hanya akan maju bila persatuan dan keadilan berjalan beriring.

Selamat Hari Sumpah Pemuda — semoga kita tak lagi hanya mengingatnya, tetapi menunaikannya dengan keadilan. Hanya dengan demikian, bangsa ini dapat membangun peradaban bahari yang bukan hanya berbasis pada sumber daya, tetapi pada keadilan sosial yang memproduksi kembali ruang hidup secara berdaulat.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved