Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Salahkah Jika Kiai Menerima Amplop?

Salahkah jika kiai menerima amplop dari santri? Mahmud Suyuti refleksikan tradisi bisyarah dalam budaya pesantren.

Tribun Timur/Mahmud Suyuti
PENULIS OPINI - Mahmud Suyuti. Ia mengirim foto pribadinya ke tribun timur untuk melengkapi opini berjudul Salahkah Jika Kiai Menerima Amplop? (Refleksi Peringatan Hari Santri). Mahmud Suyuti adalah Dewan Penasehat GP Ansor Sulsel dan Guru Pengajian Kitab di Pondok Pesantren al-Fakhriyah Makassar 

Bahkan ada santri pengusaha kaya yang membelikan kendaraan mewah untuk kiainya.

Lantas salahkah jika ada kiai berkendaraan mobil mewah boxy seperti Alphard. 

Tanpa mengurangi ketawadhuan al mukarram almarhum K.H. Sanusi Baco salahkah jika beliau menerima hadiah mobil baru dari Jusuf Kalla.

Salahkah jika Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar memberi apresiasi berupa hadiah uang tunai 30 juta kepada kiainya, gurutta Niai Sitti Aminah Adnan. 

Jadi apa salahnya jika kiai menerima amplop dari santrinya.

Ada guyonan, tidak penting amplopnya tapi isinya.

Amplop sebagai hadiah dalam ilmu Balagah diistilahkan dengan majaz, bahasa halus agar tidak terkesan pamer dan riya.

Dalam kaidah ushul disebutkan zikru ba’dli kazikri kulli (menyebut sebagian sama halnya menyebut keseluruhan). 

Menyebut amplop berarti menyebut juga isinya.

Amplop yang diberikan ke kiai dalam tradisi santri disebut bisyarah (buah tangan). Jika amplop itu diberikan kepada penceramah atau mubalig disebut ujrah (imbalan profesi).

Santri menghadiahkan amplop kepada kiainya merupakan pemberian murni sebagai ekspektasi kecintaannya kepada kiai.

Amplop juga termasuk bagian dari ekspresi santri untuk memuliakan kiainya. Baca opini saya sebelumnya yang dimuat Tribun Timur hari Jumat lalu 17/10 di link https://makassar.tribunnews.com/opini/1816348/mengapa-santri-wajib-memuliakan-kiai

Santri, alumni-alumni pesantren yang memuliakan kiainya dipastikan menuai keberkahan hidup. Santri-santri demikian dipastikan dalam kehidupannya selalu berkecukupan. 

Santri yang hidup berkecukupan pasti prihatin dan merasa iba jika melihat kiainya hidup dalam keterbatasan. 

Bagi santri selalu melihat makna hakiki dari simbol di balik amplop ada cinta-mahabbah ke kiainya. 

Di balik jalan jongkok ada adab, dibalik pengabdian ke kiai ada hikmah yang tidak bisa dinalar dengan materi. 

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq. (*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved