Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Hari Santri sebagai Pilar Kekuatan Sosial dan Keagamaan

Santri bukan hanya penjaga iman, tapi pilar sosial dan agen perubahan. Hari Santri jadi momentum apresiasi peran mereka dalam membangun bangsa.

Tayang:
Editor: Sukmawati Ibrahim
A Muhammad Syafar
PENULIS OPINI - A Muhammad Syafar. Ia mengirim foto untuk melengkapi opini Hari Santri sebagai Pilar Kekuatan Sosial dan Keagamaan. A Muhammad Syafar merupakan Dosen Teknik Informatika UIN Alauddin Makassar 

Hari Santri sebagai Pilar Kekuatan Sosial dan Keagamaan

Oleh: A Muhammad Syafar

Dosen Teknik Informatika UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM -  Tanggal 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri, sebuah momentum untuk mengapresiasi peran santri dalam sejarah bangsa, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan dan menyebarkan nilai-nilai keagamaan. 

Tidak hanya sebagai agen perubahan dalam dunia pendidikan, santri juga berfungsi sebagai pilar kekuatan sosial dan keagamaan yang sangat relevan dengan tantangan zaman, termasuk di daerah seperti Sulawesi Selatan.

Hari Santri bukan sekadar peringatan, tetapi sebuah pengingat akan kontribusi santri yang tak terhitung dalam membangun bangsa ini, terutama dalam konteks menjaga kedamaian, keberagaman, dan kesejahteraan sosial.

Sulawesi Selatan, sebagai salah satu provinsi dengan keberagaman etnis dan agama yang tinggi, telah menjadi tempat berkembangnya banyak pesantren yang mencetak generasi penerus yang berkarakter.

Santri, dengan didikan agama yang kuat, menjadi kekuatan yang mampu menjaga keharmonisan sosial di tengah perbedaan. 

Dari pesantren-pesantren ini, lahir banyak tokoh yang berperan aktif dalam memperjuangkan keadilan sosial, bahkan di tingkat pemerintahan dan masyarakat.

Tidak hanya itu, pesantren juga menjadi tempat yang menghasilkan pemimpin-pemimpin yang memiliki rasa tanggung jawab sosial tinggi, menjadikan santri sebagai aktor penting dalam pembangunan daerah.

Di Sulawesi Selatan, peran santri dalam kehidupan sosial dan keagamaan sangat tampak dalam kegiatan-kegiatan sosial yang mereka gelar. 

Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren di Sulawesi Selatan aktif dalam menggerakkan kegiatan kemanusiaan, seperti membantu korban bencana alam, memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak kurang mampu, hingga menggalang aksi solidaritas sosial. 

Hal ini memperlihatkan bahwa peran santri bukan hanya terbatas pada urusan ibadah, tetapi juga menjadi kekuatan yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas.

Dalam hal ini, santri bukan hanya pelaksana ajaran agama, tetapi juga pembawa solusi untuk permasalahan sosial yang ada di sekitar mereka. 

Selain itu, santri juga memainkan peran penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan yang moderat.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved