Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Dari Washington ke Beijing: Tafsir Baru Politik Ekonomi Indonesia

Hasan al-Syaibani, sahabatnya, menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya menjadi kasir, tetapi juga penjamin kesejahteraan.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Muhamad Majdy Amiruddin Pengajar di IAIN Parepare, Peneliti di Scholar Guild for Research and Discovery Pengabdi di Pesantren 

Oleh: Muhamad Majdy Amiruddin

Pengajar di IAIN Parepare, Peneliti di Scholar Guild for Research and Discovery Pengabdi di Pesantren

TRIBUN-TIMUR.COM - Di pasar Madinah, Yahya bin Umar sudah menulis tentang hisbah: pengawasan agar harga tidak dimanipulasi, agar rakyat tidak ditindas oleh tangan-tangan kuat.

Abu Yusuf, murid Abu Hanifah yang menjadi penasehat Harun al-Rasyid, menyusun Kitab al-Kharaj dengan satu pesan: negara harus adil dalam pungutan, hemat dalam belanja, dan bijak dalam distribusi.

Hasan al-Syaibani, sahabatnya, menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya menjadi kasir, tetapi juga penjamin kesejahteraan.

Berabad-abad kemudian, al-Mawardi merumuskan tugas penguasa: memastikan baitul mal mengalir ke perut yang lapar.

Ibn Taimiyah menegur pedagang yang bermain harga, tapi juga menegur penguasa yang lalai menahan gejolak pasar.

Al-Ghazali mengingatkan: ekonomi adalah jantung dari peradaban; rusaknya pasar adalah awal kehancuran negara.

Ibn Khaldun membaca siklusnya: negara kuat karena rakyat makmur; negara runtuh karena pajak memberatkan dan belanja salah arah. Al-Maqrizi mencatat: inflasi bukan hanya angka, tapi kezaliman yang merampas roti dari tangan fakir miskin.

Di zaman modern, Umar Chapra menegaskan kembali: ekonomi Islam bukan hanya efisiensi, melainkan keadilan distribusi dan perlindungan marjinal.

Sementara Timur Kuran, dengan skeptisisme tajamnya, berkata: “Ekonomi Islam adalah retorika politik, lebih banyak simbol daripada substansi.”

Melihat Geliat Transformasi Kebijakan di masa lalu, seperti menyaksikan Pergantian menteri keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa.

Bukan sekadar rotasi kabinet, Ia adalah perubahan aksen dalam simfoni politik ekonomi negeri ini.

Jika selama hampir dua dekade Sri Mulyani menjadi wajah ortodoksi fiskal Indonesia, mata yang setia menatap Washington, tangan yang akrab dengan doktrin IMF dan Bank Dunia, maka kini hadir Purbaya dengan keberanian menoleh ke timur, membawa semangat developmental state ala Beijing dan Seoul.

Sri Mulyani adalah teknokrat yang meyakini angka adalah bahasa kebenaran. Dididik di University of Illinois, ditempa di Bank Dunia, ia menjadi simbol keterhubungan Indonesia dengan arus besar globalisasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Inspirasi Kartini

 

Inspirasi Kartini

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved